PARADIGMA DIPLOMA
Program Diploma, Masih Perlukah?
http://lifestyle.okezone.com/index.php
Minggu, 27 Juli 2008 – 10:34 wib
PROGRAM diploma jarang bertujuan untuk pengembangan ilmu. Sebenarnya, bukan menjadi persoalan besar jika tiba-tiba sebuah program diploma dihapuskan.
Makin tidak signifikannya program diploma terlihat dari persyaratan yang diajukan dalam dunia kerja.
Hampir sebagian besar persyaratan yang diajukan adalah lulusan S-1. Contohnya, untuk jadi guru saja, syarat yang diperlukan adalah S-1 atau Diploma IV yang disetarakan.
Itu berarti, lulusan D III ke bawah, tidak lagi bisa jadi seorang guru. Anggota Komisi X (pendidikan) DPR, Anwar Arifin, menilai bahwa program diploma adalah program pendidikan yang serbatanggung.
“Secara waktu, tidak jauh beda dengan S-1. Tetapi, teori yang didapatkan tidak sebanyak sarjana. Sayangnya, itu tidak dibarengi dengan pemberian skill yang memadai,” tukasnya.
Anwar menilai, ada baiknya program diploma (I, II, dan III) ini dikaji kembali keberadaannya. Program diploma ini, lanjut politisi asal Partai Golkar ini, lebih banyak dimanfaatkan oleh perguruan tinggi sebagai sumber pendapatan semata, tanpa niat serius untuk meningkatkan kualitas.
“Pada akhirnya, jika kondisi itu terus berlangsung, yang dirugikan adalah orang-orang yang masuk program diploma ini. Ketika lulus, mereka tidak mendapatkan keahlian yang sesuai, yang diminta oleh pasar. Sia-sialah usaha mereka,” tuturnya.
Salah satu bukti yang diajukan oleh Anwar soal makin tidak signifikannya program D III, adalah makin banyak lulusan D III yang beralih jenjang ke S-1. Peralihan jenjang ini diyakini Anwar didasari bahwa kualitas lulusan D III tidak mampu bersaing di dunia kerja. “Kalau cukup, mengapa mereka harus beralih jenjang?,” tegasnya.
Menurut dia, akan lebih baik jika pemerintah memberdayakan dan meningkatkan kualitas sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk mendapatkan lulusan yang punya skillyang diminta pasar.
Pemberdayaan SMK ini, tutur Anwar, punya dua nilai yang strategis. Pertama, pemberdayaan SMK ini akan memangkas biaya pendidikan. Untuk bekerja, seseorang tidak harus mengambil diploma, cukup di SMK saja.
Kedua, mendorong perguruan tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan riset. Jika perguruan tinggi fokus pada dua hal ini, tujuan untuk menciptakan perguruan tinggi yang bertaraf internasional akan dapat tercapai.
Prof Zainudin, Pembantu Rektor I Universitas Airlangga mengutarakan, pendidikan -terutama di perguruan tinggi- tidak melulu soal mengembangkan ilmu. Perguruantinggi juga harus mampu menyediakan tenaga-tenaga ahli yang dibutuhkan oleh pasar atau industri. Atas dasar itulah sebuah program diploma itu dibuat.
“Namanya juga program vocational, jadi memang program diploma ini sangat tergantung permintaan pasar. Kalau pasar membutuhkan tenaga ahli di bidang tertentu, maka diploma bidang itu akan dibuka,” ungkap Prof. Zainudin, Pembantu Rektor I Universitas Airlangga.
Zainudin menambahkan, kalau nanti ternyata ahli di bidang itu mengalami titik jenuh, biasanya kemudian program diploma itu dihapus. Menurut dia, itu merupakan hal yang wajar dan tidak bertentangan dengan tujuan atau nilai luhur sebuah pendidikan.
Zainudin memaparkan, selain permintaan pasar, program diploma itu dibuat untuk memberikan kesempatan bagi seseorang yang ingin bekerja dengan bekal keahlian tertentu. Namun, mereka tidak punya cukup waktu atau biaya.Orang-orang seperti inilah yang diakomodasikan perguruan tinggi dengan program diploma yang diberikan.
“Apakah orang-orang seperti ini akan dibiarkan saja? Saya kira, orang-orang seperti ini juga harus diperhatikan. Jadi, tidak semua harus menjadi sarjana dulu untuk punya keahlian. Dengan mengikuti sebuah program diploma yang berkualitas, seseorang akan punya keahlian,” jelasnya.
Zainudin mengakui, masih ada anggapan – terutama untuk perguruan tinggi negeri – bahwa program diploma itu menjadi alternatif pilihan jika seseorang tidak diterima pada program sarjana. Padahal, lanjut dia, anggapan itu harus mulai diubah, bahwa program diploma itu memang dirancang sungguh-sungguh agar seseorang punya keahlian.
Menurut Zainudin, untuk membuat sebuah program diploma yang berkualitas, diperlukan para pengajar yang berkualitas. Pengajar yang berkualitas adalah mereka yang benar-benar punya keahlian di bidang program diploma itu.
“Tidak bisa kemudian seorang dosen untuk sarjana mengajar D-3 untuk praktikum. Soal teori bolehlah, tetapi, kalau praktik, harus diajarkan oleh para praktisi di bidang masing-masing,” paparnya.
(sindo//tty)
———
Diperlukan kajian secara general tentang pendidikan diploma, tidak dapat dilihat secara sederhana beberapa sekolah tinggi yang lebih berkompetensi terhadap keprofesian/ keahlian/ diploma telah lama dan banyak membuktikan sebagai bentuk realita membangun sektor industri, silahkan simak implementasi profesi dalam sektor kebudayaan dan pariwisata, media komunikasi dan informasi dan sektor lainnya yang kerap bahwa keprofesian menjadi bagian yang penting sebagai penyangga produksi bisnis dalam tatanan ekonomi di negeri ini. [ berlanjut / De Maulana A ]
About this entry
You’re currently reading “PARADIGMA DIPLOMA,” an entry on Desain Grafis dan Desain Multimedia Universitas Widyatama
- Published:
- 10/27/2008 / 12:24 PM
- Category:
- Paradigma Diploma
- Tags:
- Diploma, Informasi, Komunikasi, Media, Paradigma Diploma, Pendidikan
No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]