KEUNGGULAN DIPLOMA/ Harapan
Keunggulan Kompetitif // www.indonesia.go.id
02-06-2006
Dunia sekarang sedang memasuki atmosfir persaingan paling sengit sepanjang sejarah. Keadaan ini terjadi karena dua arus besar terjadi secara simultan, yaitu perubahan revolusioner di bidang manajemen dan teknologi informasi serta pelembagaan aturan-aturan yang memacu iklim kompetisi global.
Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang inovatif telah menciptakan persaingan global yang hebat. Outputnya terwujud dalam berbagai produk teknologi dan manajemen yang memungkinkan fleksibilitas dan aksesibilitas sangat tinggi dalam proses produksi, komunikasi dan pengambilan keputusan.
Fenomena tersebut diikuti kompetisi perdagangan bebas (free market). Setiap negara dihadapkan pada keniscayaan untuk mengurangi secara drastis ataupun menghapus kebijakan-kebijakan makro yang tidak kondusif terhadap kompetisi, apakah itu subsidi, proteksi dan hambatan-hambatan tarif.
Hal pokok yang melandasi lahirnya pasar bebas adalah semangat persaingan antar negara. Liberalisasi perdagangan dan penerapan aturan-aturan pasar bebas memiliki dampak sangat besar pada kompetisi global. Dan, ini adalah warna khas dunia dalam memasuki abad dan sekaligus milenium baru, yang berbeda dari abad-abad sebelumnya.
Dengan demikian, setiap negara, apakah negara maju, berkembang atau terbelakang berada dalam satu arena kompetisi dengan tantangan sama, aturan sama tetapi latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Berbagai kemungkinan, sebagai kon-sekuensi kompetisi, bisa saja terjadi, apakah itu degradasi (negara mengalami kemunduran) atau promosi (negara mengalami kemajuan). Hal itu sangat tergantung pada keunggulan kompetitif yang dimiliki dan dikembangkan bangsa tersebut.
Paradigma keunggulan kompetitif bangsa adalah efisiensi (keunggulan atas biaya) dan inovasi (keunggulan atas produk). Keberhasilan ekspor produk manufaktur negara industri baru dan negara berkembang misalnya, adalah salah satu contoh keunggulan atas biaya. Di negara berkembang hal ini didukung kebijakan relokasi industri dari negara-negara maju.
Setelah berhasil melakukan efisiensi, negara industri baru dan sebagian negara berkembang dihadapkan pada masalah, bagaimana meningkatkan efisiensi sekaligus mengembangkan produk-produk inovatif. Sebab, bila tetap mempertahankan keunggulan komparatif dan keunggulan atas biaya, tanpa beranjak pada pengembangan produk-produk kompetitif, niscaya akan tertinggal.
Bagaimana dengan Indonesia? Sebenarnya Indonesia masih berpeluang besar mengembangkan produk-produk ekspor. Dari sekitar 7 ribuan lebih mata dagangan yang diperdagangkan di dunia, Indonesia baru mengekspor sekitar 4.000 mata dagangan. Peluang ini dapat dimanfaatkan terutama dengan pengembangan produk dagangan yang memiliki nilai tambah relatif besar.
Namun tentu saja, peluang tersebut hanya dapat tercipta apabila industri nasional didukung oleh kualitas SDM yang tinggi, infrastruktur fisik kuat dan lingkungan inovatif yang kondusif (ke-giatan penelitian dan pengembangan yang kompetitif).
Dari aspek kualitas SDM dan infrastruktur ekonomi, tantangan yang dihadapi juga tidak kecil. Dilihat dari struktur tenaga kerja berdasarkan pendidikan, proporsi tenaga kerja Indonesia yang berpendidikan diploma ke atas masih sangat kecil. Hal ini meng-gambarkan tantangan yang besar dalam masalah pengembangan SDM dan infrastruktur fisik.
Sampai saat ini pendidikan tinggi terus berupaya menata lebih baik tentang ketepatan sebagai antisipasi dan tantangan tentang pendidikan diploma yang kemungkinan besar akan semakin banyak dibutuhkan untuk menjawab sumber daya alam dengan kemampuan sumber daya manusia yang lebih optimal seperti diterangkan dimuka. ( sunting )
Bila dicermati, pada hakikatnya hubungan antara kualitas bangsa dengan manusianya adalah kausal. Artinya, bangsa yang memiliki keunggulan kompetitif, tentulah manusianya juga memiliki keunggulan kompetitif, dan sebaliknya.
Sudah lama kita terbuai oleh kekayaan alam yang begitu melimpah. Kita memiliki keunggulan komparatif jauh di atas bangsa-bangsa lain. Namun keadaan itu justru meninabobokan kita, sehingga “lupa” mengembangkan keunggulan kompetitif. Saat bang-sa lain melesat di tengah persaingan yang sangat ketat, kita masih terengah-engah di garis start karena tak memiliki kemampuan memadai untuk turut berpacu. Padahal kita tahu, persaingan tak akan turun tensinya di masa datang. Justru semakin lama semakin sengit. Haruskah kita hanya berdiri sebagai penonton.
About this entry
You’re currently reading “KEUNGGULAN DIPLOMA/ Harapan,” an entry on Desain Grafis dan Desain Multimedia Universitas Widyatama
- Published:
- 11/08/2008 / 1:14 PM
- Category:
- Paradigma Diploma
No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]