Lebih Maju Dengan Masa Lalu


Dari Kuliah Umum Sony Dharsono

MERAJUT MASA LALU

UNTUK MEMBANGUN MASA DEPAN

Dharsono (sony kartika)

Manusia punya kebiasaan merajut, dan merajut dan membiarkan dirinya terajut didalamnya, namun anehnya terus saja ia merajut dan merajut sampai terajut di dalam rajut-rajut yang ia buat sendiri, sehingga sulitlah ia melepaskan dirinya. Demikian juga yang terjadi dalam perjalanan seni. Wawasan terhadap paradigma seni harus kita tingkatkan, tidak hanya bagaimana mempelajari seni rupa modern (barat). Tetapi bagaimana menguasai konsepsi modern sebagai sarana mempelajari tradisi masa lalu sebagai wacana untuk menyambut abad baru (global). Sehingga disainer dan atau Seniman Indonesia tidak hanya jadi tukang di negeri sendiri saja, tetapi harus mampu menemukan jati diri bangsa dan tampil sebagai seniman dan atau disainer yang mampu menampilkan citra Indonesia akar Indonesia yang berwawasan modern. Artinya untuk menghadapi global bukan berarti mempelajari tetapi menguasai teori unversal dari pendidikan seni/disain modern (barat) saja, kalau tidak mau dikatakan sebagai seniman atau diasainer modern kecil atau barat-barat kecil. Menghadapi global harus mampu menemukan jati-dirnya sendiri sebagai manusia Indonesia.

Keberadaan Seni

Keberadaan seni rupa tidak dapat lepas dari perjalanan sejarah seni rupa barat, khususnya sejak masa Reneisans (Neo-klasik) abad 18 sampai masa kejayaan seni modern abad 20, dan munculnya seni kontemporer akhir abad 20. Keberadaan seni modern mampu meyakinkan publik sebagai suatu paradigma perkembangan seni rupa modern yang mampu menjadi standardisasi perkembangan seni rupa secara universal.

Keberhasilan seni modern tersebut membawa perjalanan seni rupa semakin mantap, sampai kemudian apa yang disebut sebagai tradisi “fine art”, yang meliputi trinitas seni yakni: seni lukis, seni patung dan arsitektur. Perkembangan seni rupa, kemudian diukur dari keberhasilan mereka dalam mengembangkan ketiga seni tersebut. Ketika itulah muncul dikotomi dalam seni rupa, perupa dalam tradisi “fine art” disebut artist, sedang para pelaku dalam katagori “craft” disebut artisan atau tukang. Khususnya seni lukis mendapatkan posisi superior, karena keberhasilan para perupa barat dalam mendudukkan seni lukis sebagai bagian dari “liberal art” kegiatan yang mencerminkan bagian dari intelegtualitas, sedang “craftmanship” hanyalah “mechanical art” atau skill saja (Sony kartika 2003).

Seni lukis dalam perjalanan selanjutnya merupakan barometer keberhasilan perkembangan seni rupa, bahkan dalam wacana tradisi pameran seni rupa, selalu dapat dipastikan; bahwa pameran seni rupa identik dengan pameran seni lukis, sedang pameran pembangunan pedesaan identik untuk craft atau kriya. Studi Seni lukis menempati posisi sebagai panglima dalam perkembangan pendidikan tinggi seni rupa saat itu. di Indonesia seputar tahun 1970 s/d menjelang akhir tahun 1990-an, perguruan tinggi seperti ISI Yogyakarta dan ITB Bandung, Jurusan Senimurni terutama Progran Studi Seni Lukis sangat diminati, bahkan sebagai program primadona

Setelah munculnya revolusi Industri, kondisi kriya (crafmanship) semakin terpuruk. Keberadaan produksi manual mulai digantikan oleh produksi mesin industri. Produk hasil tangan-tangan trampil kriyawan tersingkir. Usaha untuk mengangkat kembali dan keinginan untuk mengiteraksikan antara seni dan skill (art and craft) sia-sia. Apa yang dihasilkan justru munculnya kesadaran industri, akan pentingnya aspek perancangan (disain).

Kesuksesan sekolah Bauhaus menjadi pengantar bagi “boom” disain setelah perang dunia ke dua. Maka terbentuklah paradigma disain sebagai bagian dari wilayah seni rupa yang berafiliasi dengan industri. Disain semakin dewasa dan kokoh, hingga mampu meyakinkan masyarakat industri sebagai satu kebutuhan yang mendesak, bahkan mampu meyakinkan publik sebagai salah satu alternatif yang menjanjikan dunia kerja. Kemudian program studi disain menempati posisi yang penting dalam perjalanan perkembang pendidikan seni rupa. Bahkan mampu menggeser posisi seni murni dengan menempati posisi sebagai panglima dalam perkembangan pendidikan tinggi seni rupa saat ini.

Seputar tahun 1980-an program studi disain pada perguruan tinggi seni rupa, merupakan alternatif yang paling menjanjikan hingga akhir tahun ini. Terbukti di Bandung ada 6 perguruan tinggi dan 3 lembaga pendidikan menyelenggarakan program studi disain, dan cukup diminati oleh publik.

Perkembangan lebih lanjut, trikotomi seni, disain dan kriya, semakin tampak dan nyata. Kriya menempati posisi dibawah, bahkan direndahkan atau diinferiorkan oleh fine art ataupun disain. Perjalanan kriya Indonesia sebelum krisis ekonomi (1998), hampir semua industri kecil yang berbasis kekriyaan dianggap marginal terhadap industri besar, bahkan seringkali dimasukkan ke dalam sektor non-formal dan dianggap jalan keluar untuk menanggulangi pengangguran. Akibatnya istilah kriya, dipakai untuk menyebut semua usaha dan perusahaan kecil di masyarakat pedesaan; kriya tahu, kriya tempe dan sebagainya. Sehingga kriya tidak saja secara posisioning terdepak kebawah, namun juga istilah kriya sendiri semakin tampak marginal (kampungan).

Namun apa kenyataannya ?!……Ketika krisis ekonomi Indonesia 1998, kriya yang terdepak kebawah, kriya yang terlempar ke-lorong marginal, justru berperan penting untuk menciptakan lapangan kerja dan bahkan memberikan andil yang cukup signifikan dalam menggerakan roda ekonomi pada lapisan “grass root”. Bahkan dengan lumpuhnya padat modal, justru menyulut lahirnya usahawan untuk bergerak dalam industri berbasis kriya seperti di Jepara, Cirebon, Surakarta (Imam,1999).

Berdasarkan observasi di daerah Klaten dan Serenan Surakarta, Industri kriya mebel (kayu dan bambu), mengalami lonjakan yang menonjol dan hampir 20 s/d 30 kontiner masuk pelabuhan Semarang dan Surabaya . Diikuti tekstil jadi (garment) Surakarta, industri kriya logam dan perhiasan di daerah Cepogo Boyolali dan Kotagede Yogyakarta (Sony kartika, 1999). Jadi jangan heran kalau awal tahun 2000 pelabuhan Tanjung Priok Jakarta sepi peti kemas.

Sudah disinggung di atas, konsepsi seni lukis sebagai barometer perjalanan tradisi modern, dan disain sebagai panglima yang muncul sebagai alternatif sesudah revolusi industri, secara essensi keduanya berkiblat pada basic konsepsi universal. Pada akhirnya muncul dikotomi antara seni dan disain belakangan ini. Para disainer mulai mengingkari bagian dari wilayah seni rupa, mereka menolak karena seni sudah tidak lagi mengindahkan teknologi, bahkan cenderung semakin absurd dan individuailstik. Masyarakat cenderung memilih studi anaknya ke disain yang di anggap lebih menjanjikan lapangan kerja sebagai disainer bukan seniman.

Kenyataan itu memang benar, bahwa dua tahun terakhir ini perguruan tinggi seni rupa program studi seni murni mulai sepi dan kurang diminati. Yang paling eronis, bahwa anggapan sebagian masyarakat bahwa untuk jadi seniman tidaklah harus masuk perguruan tinggi. Maka munculah seniman-seniman otodidak yang lebih berani ketimbang seniman akademik sendiri…….

Apabila konsepsi seni dan disain berangkat dari basic tradisi barat, maka kriya berangkat dari besic tradisi etnis. Paradigma kekriyaan mulai terangkat kepermukaan dan mulai dipertimbangkan keberadaannya. Bahkan muncul pergeseran konsepsi kekriyaan dari ketrampilan (craftmanship) menjadi kemampuan membuat gubahan atas material, artinya; kriya tidak dapat dilepaskan dari basic teknologie bersifat eksternal dan menekankan pada kemampuan untuk mengutarakan gagasan lewat disain bersifat internal.

Dekade mendatang

Ada satu pekerjaan yang harus kita siapkan dalam dekade ini, yaitu menghadapi pasar global. Menghadapi pasar global dalam bidang seni rupa, kita tidak hanya mengandalkan konsepsi universal yang berbasic tradisi barat, tetapi justru harus mampu menyodorkan berbagai alternatif yang bertolak dari konsepsi tradisi etnis dengan sentuan modern (atau sebaliknya).

Mengapa tidak, karena dengan kekuatan tersebut barulah mampu bersaing dalam pasar global. Kriya yang sementara di-inferiorkan oleh seni dan disain, justru lebih siap dan mampu menjawab konsepsi tersebut, karena kriya berangkat dari tradisi dengan sentuhan modern. Itulah mengapa Iwan Tirta mampu berbicara pada pasar global?, karena Iwan Tirta mencoba memadukan rancang busananya dalam konsepsi modern dalam sentuhan tradisi etnis nusantara. Kain ikat dari Surakarta yang disodorkan sebagai bentuk sarung pantai memenuhi pasaran Yogyakarta dan Bali, kemudian masuk pasaran dunia lewat Jepang, Eropa dan Canada. Demikian juga produk garment dari Badung, Pekalongan Yogyakarta dan Surakarta merupakan alteranatif eksport untuk Belanda, Amerika dan Jepang. Disusul produk mebeler Jepara, Serenan Klaten Jawa Tengah masuk ke pasaran Canada, Swiss, Belanda dan negara Eropa lainnya). Semuanya adalah produk kekriyaan yang mampu menopang devisa dalam perekonomian rakyat, dalam krisis moneter dewasa ini.

Pada era globalisasa dewasa ini kita kita dihadapkan dalam dua persoalan pokok dalam persoalan budaya; satu sisi kita dituntut untuk maju (progress), satu sisi kita dituntut untuk melestarikan warisan budaya yang telah mapan (konservatif). Tidak dapat dipungkiri bahwa wawasan kita tentang seni rupa adalah wawasan seni rupa modern barat, karena sistem pendidikan tinggi dengan segala perangkatnya mengacu pada pendidikan seni rupa barat. Wawasan konsepsi tersebut bukan berarti harus tolak, namun justru merupakan satu perangkat yang harus kita pelajari sebagai satu dasar pengkayaan untuk mengkaji budaya kita sendiri. Artinya bahwa kedua konsepsi tersebut harus saling menopang dan saling sinergi untuk menambah pengkayaan wawasan, sebagai satu tumpuan untuk menyongsong era globalisasi.

Wawasan terhadap paradigma seni harus kita tingkatkan, tidak hanya bagaimana mempelajari seni rupa modern (barat). Tetapi bagaimana menguasai konsepsi modern sebagai sarana mempelajari tradisi masa lalu sebagai wacana untuk menyambut abad baru (global). Sehingga disainer dan atau Seniman Indonesia tidak hanya jadi tukang di negeri sendiri saja, tetapi harus mampu menemukan jati diri bangsa dan tampil sebagai seniman dan atau disainer yang mampu menampilkan citra Indonesia akar Indonesia yang berwawasan modern. Artinya untuk menghadapi global bukan berarti mempelajari tetapi menguasai teori unversal dari pendidikan seni/disain modern (barat) saja, kalau tidak mau dikatakan sebagai seniman atau diasainer modern kecil atau barat-barat kecil. Menghadapi global harus mampu menemukan jati-dirnya sendiri sebagai manusia Indonesia.

Sentuhan Tradisi Nusantara

Memahami kebudayaan pada dasarnya memahami masalah makna, nilai dan simbol yang dijadikan acuan oleh sekelompok masyarakat pendukungnya. Kemudian akan menjadi acuan dan pedoman bagi kehidupan masyarakat dan sebagai sistem simbol, pemberian makna, model yang ditransmisikan melalui kode-kode simbolik Pengertian kebudayaan tersebut memberikan konotasi bahwa kebudayaan sebagai ekspresi masyarakat berupa hasil gagasan dan tingkah laku manusia dalam komunitasnya. Artefak seni yang lahir di Bumi Nusantara merupakan ekspresi kebudayaan masyarakatnya dengan segala falsafah dan filsafat yang melatar belakanginya. Pembahasan ini akan mencoba mempertanyakan tentang estetika nusantara yang selama ini dianggap tidak punya “paugeran” (paradigma yang diyakini) terhadap karya-karya seni nusantara.

Di dalam kehidupan rahani, yang menjadi dasar dan memberi isi kebudayaanJawa, benar-benar didapatkan usaha untuk mencari dasar awal segala sesuatu, renungan tentang apa yang terdapat di belakang segala wujud lahir dan pencarian sebab terdalam dari padanya, yaitu perincian tentang: “Arti hidup manusia, asalmula dan akhir kehidupan (sangkan paraning dumadi) dan juga hubungan antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta”. Bukankah semua ucapan dan pemecahan, yang diperoleh dari semua pertanyaan dan pencarian, dapat pula disebut filasafat, yang kemudian menjadi dasar dalam berprilaku dan berkarya. Filsafat dalam kontek timur (Jawa) dapat

diartikan sebagai suatu pencarian dengan kekuatan sendiri tentang hakekat segala wujud (fenomena), yang bersifat mendalam dan mendasar. Maka semua usaha untuk mengartikan hidup dan dengan segala pengejowantahannya, manusia dengan tujuan akhirnya, hubungan yang tampak dan yang gaib, yang silih berganti dengan yang abadi, tempat manusia dalam alam semesta, seperti yang kita dapatkan dalam banyak perenungan di Jawa dan menghasilkan karya-karya agung dari Yasadipura, Ranggowarsita dan sebagainya.

Ketenaran tokoh Bima dalam mencari air suci “Perwitasari” (air kehidupan), memperoleh wirid dalam ilmu sejati, dapat dipakai sebagai petunjuk betap usaha ini memang telah berakar dalam kehidupan orang Jawa (karya Yasadipura I, 1729-1801).

Renungan filsafat yang didapatkan di dalam serat Dewa Ruci adalah “Filsafat Mistika” (Mystical Philosophy), yang diperoleh tidak melalui penalaran rasional, melainkan melalui “penghayatan batin” (inner experience) dengan jalan samadi (meditation). Di dalam kesadaran “samadi” (altered atau meditative state of congclousness), manusia memperoleh “pengetahuan penghayatan” (experiential knowledge). Pengetahuan ini dituangkan dalam cerita kias perjalanan Bima dalam mencari air kehidupan. Bima mendaki gunung masuk ke dalam samudera dan bertemu dengan Dewa Ruci dan masuk kedalam tubuhnya, akhirnya mendapatkan boneka gading. Ini semua menggambarkan: Aku (ego) mengatasi kesadaran aku (ego consciousness), masuk alam tak sadar (the conscious), bersatu dengan Pribadi (the Self) dan memperoleh pengetahuan dengan melihat hakekat hidup sebagai boneka. Tercermin adanya proses transcendental dan transendensi dari kesadaran ego atau panca indrawi menuju kesadaran Pribadi (Self consciousness) dan akhirnya mencapai kesadaran Illahi melalui pendekstsn dsn penyatuan diri dengan alam semesta (Cosmic consciousness). Seluruh proses ini menjadi experiental knowledge dan dituangkan ke dalam conceptual knowledge pada antropologi dan epistimogi mistika.

Renungan filsafat lewat cerita “Bimo Ruci” merupakan karya sastra berbentuk syair dalam tembang macapat. Estetika yang dibangun oleh Yadipura menitik beratkan pada paduang antara keindahan sastra tembang dengan ajaran kebaikan. Ajaran yang menggambarkan tentang pengembaraan batin manusia dalam mencari sari kehidupan manusia. Manusia dalam mencapai Kasampurnan Jati dihadapkan dalam tujuh tingkatan ujian menuju tingkat kehidupan yang tertinggi yang disebut dengan alam Niskala (lihat konsep ajaran budaya tentang Tri-loka/Tri-buana). Masyarakat Jawa (Nusantara) sadar bahwa hidup didunia hanyalah semu, dan mesti mengetahui hidup yang sesungguhnya (hidup yang abadi). Maka semasa di dunia perlu bekal untuk masuk kedalam kehidupan yang sesungguhnya, maka manusia harus suci lahir batin

Renungan filsafat yang terdapat pada karya Arjunawiwaha merupakan suatu episoda di dalam epos India Mahabarata di mana Arjuna sedang bertapa (asceticism) di Gunung Indrakila, sebuah puncak gunung Himalaya. Dia bertapa untuk memperoleh kesaktian dan senjata guna memenangkan Bharata Yuda. Pada saat itu Kahayangan Dewata sedang diancam serangan oleh raja-raksasa Niwatakawaca. Para Dewa meminta Batara Indra untuk mencari manusia sakti yang akan dapat mengalahkan Niwatakawaca. Pilihan jatuh kepada Arjuna yang sedang bertapa itu. Batara Indra akan menguji keteguhan hati Arjuna dan tujuan tapanya. Dari kahayangan diutus bidadari cantik-cantik, di bawah pimpinan Dewi Supraba, untuk mengoda dan membatalkan tapa Arjuna usaha ini gagal. Batara Indra sendiri turun ke dunia, menyamar sebagai seorang Brahmana dan menanyakan tujuan arjuna bertapa. Pada dialog diungkapkan pemikiran filsafat mengenai kesusilan (etika).

Batara Indra melihat bahwa Arjuna menyanding senjata busur panah dan pedang kemudian bertanya apakah seorang yang sedang bertapa untuk mencapai kamuksan (liberation) layak membawa senjatanya.

Arjuna menjawab bahwa, tujuan tapanya bukanlah mencapai kamuksan, melainkan untuk memenuhi darma (duty) kesatria memperolah kesaktian dan senjata agar unggul dalam tugas peperangan dan tugas melindungi rakyat.

Batara Indra bergembira mendengar jawaban ini. percobaan terakhir dilakukan Batara Siwa sendiri, yang menyamar sebagai seorang pemburu. Pada saat itu Niwatakawaca mengutus raksasa murkha menjadi seekor babi hutan untuk merusak pertapaan Indrakila. Arjuna keluar dari semadinya (meditation) dan melepaskan panahnya, berbarengan dengan panah batara Siwa yang juga mengenai babi hutan. terjadilah pertengkaran namun Arjuna sudah tahu siapa yang dihadapi dan menghaturkan sembah baktinya. dalam dialog diungkapkan, renungan filsafat tentang hidup awal akhir kehidupan alam semesta serta manusia dan hakekat Siwa (Metafisika). Tapa Arjuna diterima para dewa. Batara Siwa memberinya panah sakti Pasopati, yang kemudian digunakan Arjuna untuk membunuh Niwatakawaca. Sebagai hadiah kemenangannya Arjuna dinikahkan dengan Dewi Supraba dan untuk sementara menjadi raja Kahayangan [1]

Renungan Metafisik yaitu Renungan tentang ada (being) diwujudkan dalam pribadi (personified) Dewa Siwa, yang digambarkan sebagai “sarining paramatatwa”: inti dari kebenaran tertinggi, “hana tanhana”: ada atau tiada, “sang sangkanparaning sarat”: asal dan tujuan (the where from end where to, origin and destiny) alam semesta, “sakala niskalatmaka”: wujud lahir dan batin.

Hubungan antara manusia dengan Siwa dinyatakan “wahya dhyatmika sembahaning hulun”: hubungan sembah lahir bathin (exoteric / esoteric)

Renungan tentang tata laku susila (etika) didapatkabn dalam dialog antara Arjuna dan batara indra. etika bukan merupakan refleksi teoritis belaka, melainkan merupakan kelakuan baik sebagai sarana mencapai kesempurnaan, yaitu menjalankan “dharmma ksatria”: kewajiban seorang ksatria. bila mana kewajiban ini senantiasa dilakukan dengan baik “makaputusa sang hyang kalepasan”: dia akan mencapai kamuksan atau kebebasan (liberation) juga.

Ulasan: pengertian “sangkan paran” merupakan inti filsafat nusantara (Jawa), fenomena hidup alam semesta bukannya dianggap diam statis, melainkan bergerak dinamis. demikian pula mengenai manusia. Antropologi filsafati bukanlah pertama-tama menanyakan : apakah manusia itu, melainkan : dari mana asal manusia dan kemana dia pergi. Eksistensi manusia ditinjau secara menyeluruh dahulu dan baru kemudian ditinjau citranya (image) dalam konteks tujuan mutakhirnya. Etika tidak lepas dari “sangkan paran” ini.

Memang benar bahwa ada perbedaan yang dalam antara sistem-sistem filsafar Barat dengan ungkapan-ungkapan renungan filsafat Jawa (nusantara) yang sering bersifat frahmentaris dan kurang nampak adanya hubungan yang jelas. Terdapatlah perbedaan sebagian filsafat barat dan timur, para akhli filsafat timur mengatakan: “Bukan menciptakan filsafat untuk filsafat sendiri. Pengetahuan senantiasa hanya merupakan sarana untuk mencapai kasampurnan” Suatu langkah kejalan menuju kalepasan (verlossing) atau malahan mencapainya; yaitu satu-satunya jalan bagi manusia untuk sampai kepada tujuan akhirnya.

Berlainan dengan kebanyakan pemikiran barat, disini tidak kita dapatkan pertentangan antara filsafat dengan pengetahuan tentang Tuhan. Justru didapatkan pada filsafat nusantara (Jawa) bahwa kearifan tertinggi, yang merupakan puncak filsafat adalah pengetahuan tentang Tuhan, tentang Yang Mutlak dan hubunganNya dengan manusia.

Kalau Filsafat barat selalu mempertanyakan tentang hidup ini secara logika maka filsatat Nusantara selalu mempertanyakan tentang perjalanan hidup dalam mecapai kasampurnan. Bilamana kita pakai bahasa Jawa sendiri, maka filsafat berarti:” ngudi kasampurnan” (berusaha untuk mencari kasampurnan sejati). Sebaiknya philosophia Yunani dibaca dengan bahasa Jawa menjadi : “ngudi kawicaksanan “ (berusaha untuk memperoleh kepandaian/ kepinteran)

Kedua renungan filsafat di atas, memberikan informasi bahwa rankaian bentuk estetik nusantara (Jawa) diimplementasikan lewat bahasa symbol yang lahir dari pencarian lewat sugesti alam. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat klasik saat itu di dalam usahanya untuk mendekatkan kita terhadap Tuhannya dengan cara mendekatkan dirinya dengan alam semestanya. Sehingan terjadi hubungan antra dirinya (mikrokosmos) dengan alam semesta dan lingkungannya (makrokosmos) dan hubungan antara dirinya dengan Tuhannya.

Bagus Gede Yudha Triguna (1997:65), memberi penjelasan tentang nilai dan simbol secara estimologi. Secara estimologis kata simbol berasal dari bahasa Yunani yaitu sumballo (sumballien) yang berarti berwawancara, merenungkan, memperbandingkan, menyatukan. Simbol merupakan pernyataan dua hal yang disatukan dan berdasarkan dimensinya. Nilai berkaitan dengan sesuatu yang dianggap berharga, sedangkan simbol selain memiliki fungsi tertentu juga dapat dimanfaatkan sebagai identitas komunitasnya. Suatu simbol menerangkan fungsi ganda yaitu transenden-vertikal (berhubungan dengan acuan, ukuran, pola masyarakat dalam berprilaku), dan imanen horisontal (Sebagai wahana komunikasi berdasarkan konteknya dan perekat hubungan solidaritas masyarakat pendukungnya) 2

Pandangan orang Jawa dalam melihat, memahami, dan berperilaku juga berorientasi terhadap budaya sumber. “Proses budaya Jawa selaras dengan dinamika masyarakat yang mengacu pada konsep budaya induk, yaitu “sangkan paraning dumadi” (lihat: Geertz 1981: X-XII). Kelahiran dan atau keberadaan karena adanya hubungan antara manusia dengan Tuhannya melalui proses kelahiran, hidup dan mendapatkan kehidupan, yang semuanya terjadi oleh adanya sebab dan akibat. Geertz mengkaitkannya persoalan tersebut dengan beberapa pemakaian istilah dalam Agama Jawa3 yang berintikan pada prinsip utama yang dinamakan “sangkan paraning dumadi”. Konsep tersebut dalam budaya Jawa dikenal dengan istilah nunggak semi4.

Hubungan mikrokosmos, makrokosmos dan metakosmos berkaitan dengan konsep tribuana dan triloka Abdullah Ciptoprawiro dalam Arjunawiwaha (abad XI) oleh empu Kanwa di Jaman raja Erlangga, merupakan bentuk Kakawin, cerita bersyair berwujud lakon untuk pementasan wayang. Renungan filsafat secara metafisik yaitu, (a) renungan tentang Ada (Being) diwujudkan dalam pribadi (personified). Dewa Siwa yang digambarkan sebagai “sarining paramatatwa” (inti dari kebenaran tertinggi= niskala), ada-tiada (terindra dan tak terindera= sakala-niskalatmaka) yaitu asal dan tujuan (the where from and where to, origin and destiny) alam semesta (sakala) (2000:34-35).

Ajaran filsafat Jawa secara tersirat menjelaskan hubungan mikro-makro-metakosmmos, sesui sistem berpikir budaya mistis Indonesia. Pandangan tentang makrokosmos mendudukkan manusia sebagai bagian dari semesta. Manusia harus menyadari tempat dan kedudukanya dalam jagad raya ini. Pandangan tentang mikro-meta-makrokosmos, dalam konsep yang kemudian disebut ajaran Tribuana/Triloka, yakni : (1) alam niskala (alam yang tak tampak dan tak terindera), (2) alam sakala niskala (alam yang wadag dan tak wadag, yang terindera tetapi juga tak terindera, dan (3) alam sakala (alam wadag dunia ini). Manusia dapat bergerak ke tiga alam metakosmos tadi lewat sakala niskala yakni: lewat kekuasaan perantara yakni shaman atau pawang, dan lewat kesenian 5.

Pandangan masyarakat terhadap hubungan mikrokosmos dan makrokosmos, Jose and Miriam Arguelles mengkaitkan dengan bentuk ritual pada konsep Mandala (mandala conceps) yaitu konsep hubungan interaksi yang kemudian membentuk satu kesatuan dan keseimbangan kosmos“Centering”6 (1972:85).


[1] Karya: Arjunawiwaha ( The Nuptial of Arjuna). Dr. R. Ng. Poerbatjaraka (Lesya) : Arjunawiwaha, Tekst en Vertaling. Martinus Nijhoff, ‘S Gravenhage, 1926

2 Ida Bagus Gede Yudha Triguna, 1997. dalam “Mobilitas Kelas, Konflik dan Penafsiran Kembali Simbolisme Masyarakat Bali, Desertasi Doktor, Bandung: PPs Universitas Padjadjaran

3 Munculnya istilah Agama Jawa yang diartikan sebagai pemujaan leluhur (Cliford 1981), telah diluruskan oleh Harsja Bachtiar, berdasarkan penelitian Orang Jawa di Suriname (1976), bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan Agama Jawa bukanlah agama pemujaan leluhur, melainkan berintikan pada prinsip utama yang dinamakan: sangkan paraning dumadi. Permasalahan yang penting, Cliford ataupun Harsja Bachtiar mampu memberikan informasi tentang sistem religius dalam kehidupan sosial Jawa dalam peta kehidupan budaya berkaitan dengan hubungan antara struktur sosial yang ada dalam masyarakat, hubungan antar sistem pengorganisasian dan perwujudan simbol-simbol (1981: X-XII)

4 Istilah nunggak semi: nunggak= dari asal kata tunggak yang berarti sisa batang kayu dengan akar yang tertinggal di tanah, semi artinya tunas atau tumbuh Nunggak semi dapat diartikan sebagai satu pertumbuhan dari budaya induknya (tunggaknya). Suatu proses perubahan (pengembangan) dari sebuah perilaku budaya, maka pada fase tertentu masih mengacu pada budaya induknya (babon). Neka bentuk pohon hayat merupakan hasil proses perkembangan budaya, yang secara tradisi mengacu pada esensi budayanya (Harjonegoro, 15 Juni 1999).

5 Dharsono Sony Kartika (ed)(2004), Pengantar Estetika, Bandung: Rekayasa Sain P;202-203

6 Closely related of the fungction of purifying the mind and body is centering. It is con-cntration-making con-centric of the organism’s out-flowing energies by turning them inward and focusing them through a central poin. In this way the biopsychic energies are literally recycled. Any activity which achieves this effect is from of centering (Yose and Mariam Arguelles, 1972:85). Konsep “mandala” membentuk keseimbangan, keselararasan dan kesatuan dan masing-masing memberi kekuatan/energi secara sentral (centering of life).

Info : Jika berminat soft copynya, silahkan kirim email pada ruang comment, kami akan kirim segera. Terimakasih.


About this entry