<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Desain Grafis dan Desain Multimedia Universitas Widyatama</title>
	<atom:link href="http://dkvutama.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dkvutama.wordpress.com</link>
	<description>Profesional Diploma Desain Grafis dan Desain Multimedia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Nov 2008 06:20:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on DARI FILM MUSIKAL/ Film Kantata Takwa/ Gatot Prakoso by indarsjah tirtawidjaja</title>
		<link>http://dkvutama.wordpress.com/2008/10/27/film-kantata-taqwa/#comment-9</link>
		<dc:creator>indarsjah tirtawidjaja</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 06:20:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://dkvutama.wordpress.com/?p=74#comment-9</guid>
		<description>di cuplik dari website Rizal Prasetyo: (with editing)

Kesan Saya Mengenai Film Kantata Takwa
Ditulis oleh RIZAL B Prasetijo (di posting di milis i-rockmusik@googlegroups.com)
—————————————————————–
Buat anda yang berminat untuk menonton film Kantata Takwa dan mengharapkan alur cerita yang jelas, sebaiknya urungkan niat anda. Untuk menikmati film ini, dibutuhkan ketajaman perasaan seni dan perenungan batin untuk membongkar pesan pesan moral yang disampaikan dalam bahasa personafikasi musik Kantata Takwa yang kemudian dikemas secara cantik dalam bingkai seluloid oleh Eros Djarot. Saya sungguh kagum, bahwa 15-16 tahun yang lalu, sineas Indonesia sudah mampu menghasilkan film sekelas Kantata Takwa. Hanya karena konstelasi politik sajalah, penanyangan film ini harus ditunda hingga tahun 2008.
Seperti dugaan saya sebelumnya, film Kantata Takwa adalah pengejawantahan protes pekerja seni Indonesia yang merasa hak-haknya untuk berkreatifitas dirampas. Protes mereka juga mewakili rakyat kelas bawah yang tertindas di jaman Orde Baru. Kemuakan mereka atas penindasan hak-hak asasi manusia di jaman itu diwujudkan dalam lirik-lirik lagu yang gamblang tapi indah secara seni yang dibawakan oleh Iwan Fals, Sawung Djabo, W.S. Rendra, dan Yockie. Lebih indah lagi karena lagu2 ini dibawakan dalam pakem progressive dengan alur nada yang tidak teratur, terkadang menggunakan syncopated dan hocketing techniques. Luar biasa!!!
Film ini dibuka dengan caption seorang rakyat Indonesia jelata (yang diperankan oleh Sawung Djabo) lari ketakutan ditengah hutan diburu oleh sepasukan tentara bersepatu boot, menggunakan masker gas, dan menyandang M16. Sekalipun dia dihantui ketakutan yang amat sangat, dia tidak lupa untuk mengingatkan teman-temannya untuk menyelamatkan diri. Sungguh kesetia kawanan yang luar biasa ditengah kekacauan!!!. Tapi, apa dinaya, kesetia kawanan rakyat kelas bawah berakhir tragis. Semua matiiii dibedil M16 yang dibawa oleh tentara bermasker gas (yang menurut hemat saya merupakan personafikasi dari rezim Orde Baru).
Kisah tadi mengilhami WS Rendra (dan karena film ini dibuat sekitar tahun 1992/93, anda bisa melihat betapa mudanya WS Rendra saat itu) untuk menulis sebuah puisi. Saking terbiusnya saya dengan jalinan kata-kata beliau dan akting latar yang kuat dari para seniman yang tergabung dalam Bengker Teater WS Rendra (yang menggunakan topeng yang menutup 3/4 wajah), saya lupa untuk mencatat syair nya. Tapi pada dasarnya WS Rendra mengecam strategi pembangunan rezim Orde Baru yang banyak mengesampingkan kesejahteraan rakyat bawah.
Kemudian seloid melompat untuk mengabadikan momen terbentuknya gerakan Kantata Takwa. Oke, mungkin kita semua bertanya apakah Setiawan Djodi merupakan refleksi yang pas untuk pekerja seni yang memprotes kebiadaban rezim Orde Baru terhadap rakyat kelas bawah. Terlepas dari status sosialnya and kemungkinan kedekatan beliau dengan rezim Orde Baru, saya melihat bahwa tanpa dukungan finansial Setiawan Djodi, Kantata Takwa tidak akan pernah ada. Yang menarik dari caption ini adalah beberapa pandangan pendiri Kantata Takwa yang mengidentifikasikan gerakan baru ini sebagai refleksi dari pandangan mereka tentang agama dan keagamaannya. Sekali lagi, jangan nilai pandangan mereka tentang konsep beragama dengan pandangan keagamaan yang mainstream. Kalau boleh saya berpendapat, nilai saja pandangan keagamaan mereka dari Tauhid Rububiyah, jangan nilai dari sisi Tauhid Uluhiyah, apalagi Tauhid Asma’ul Husna…
Dari sini Eros Djarot mulai menggabungkan potongan-potongan konser Kantata Takwa di Stadion Bung Karno bulan Juni 1991 dengan caption-caption lepas yang menguatkan pesan moral yang dibawakan oleh Kantata Takwa. Sebagai contoh, dalam “Bento”,
====
Namaku Bento rumah real estate
Mobilku banyak harta berlimpah
Orang memanggilku bos eksekutive
Tokoh papan atas atas s’galanya asyik . . . . . . . . .

Wajahku ganteng banyak simpanan
Sekali lirik oke sajalah
Bisnisku menjagal jagal apa saja
Yang penting aku menang aku senang
Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik sekali lagi asyik………

Khotbah soal moral omong keadilan sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu lobbying dan upeti oh…  jagonya..
Maling kelas teri bandit kelas coro itukan tong sampah
Siapa yang mau berguru datang padaku

Sebut tiga kali namaku Bento…. Bento…. Bento…..
Asyik…….!!!!!!  Asyik……

------------------------------------------------------------------------
Eros Djarot memulainya dengan perjumpaan Iwan Fals dengan segerombolan anak desa yang memimpikan hidup enak seperti Bento, melompat kepada saat Kantata Takwa membius 70.000 penonton di Stadion Bung Karno dengan lagu Bento dan ditutup dengan caption seorang makelar tanah yang diburu oleh rakyat desa yang marah. Sementara dalam Paman Doblang,
-------------------------------------------------------------------------
Paman Doblang paman Doblang
Mereka masukkan kamu kedalam sel yang gelap
Tanpa lampu tanpa lubang cahaya
Oh pengap

Ada hawa tak ada angkasa ( terkucil )
Temanmu beratus ratus nyamuk semata ( terkunci )
Tak tahu kapan pintu akan terbuka
Kamu tak tahu dimana berada

Paman Doblang paman Doblang
Apa katamu?

( …Ketika haus aku minum air dari kaleng karatan
Sambil bersila aku mengarungi waktu
Lepas dari jam, hari dan bulan Aku dipeluk oleh wibawa… )

Tidak berbentuk, tidak berupa, tidak bernama
Aku istirahat disini
Tenaga gaib memupuk jiwaku

Paman Doblang paman Doblang
Di setiap jalan menghadang mastodon dan srigala
Kamu terkurung dalam lingkaran
Para pangeran meludahi kamu dari kereta kencana

Kaki kamu dirantai kebatang karang
Kamu dikutuk dan disalahkan tanpa pengadilan
Paman Doblang paman Doblang
Bubur di piring timah didorong dengan kaki kedepanmu

Paman Doblang paman Doblang
Apa katamu?

Kesadaran adalah matahari
Adalah matahari adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Adalah bumi adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Menjadi cakrawala menjadi cakrawala

Dan perjuangan
Adalah pelaksanaan kata kata
Adalah pelaksanaan kata kata

Kesadaran adalah matahari
Adalah matahari adalah matahari

Paman Doblang paman Doblang
Apa katamu?

===
Eros Djarot menampilkan WS Rendra sebagai pesakitan yang mempertanyakan nilai keadilan pengadilan di zaman Orde Baru. Sambil menarasikan lagu Paman Doblang, WS Rendra harus menghadapi hakim (menggunakan topeng) yang mempunyai bermacam-macam wajah. Pesan seni yang sangat indah, bahwa nilai keadilan di zaman Orde Baru adalah relatif ditentukan oleh penguasa.
Dibalik sejumlah lagu Kantata Takwa yang dijadikan alur cerita personafikasi film yang berdurasi 65 menit ini, Eros Djarot juga berhasil menyisipkan adegan mengenaskan dimana satu persatu penggagas Kantata Takwa (perlambang pembela kebenaran) mati dibunuh secara sadis oleh tentara bermasker gas. Namun, pada akhirnya pimpinan tentara bermasker gas tadi ditangkap oleh rakyat yang marah. Ketakutannya terhadap amarah rakyat yang amat sangat, membuat pimpinan tentara bermasker gas tadi mati di kurungannya, sebelum pengadilan rakyat memutuskan amarnya…
Hmmmm… mengingat film ini dibuat tahun 1992/93, saya bertanya tanya apakah Eros Djarot mempunyai bola kristal yang mampu memprediksikan kejadian besar di negeri ini tahun 1998 yang ditutup dengan wafatnya sang “Bapak Pembangunan”.
Selamat menikmati film Kantata Takwa.

Salam,
Rizal B. Prasetijo</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>di cuplik dari website Rizal Prasetyo: (with editing)</p>
<p>Kesan Saya Mengenai Film Kantata Takwa<br />
Ditulis oleh RIZAL B Prasetijo (di posting di milis <a href="mailto:i-rockmusik@googlegroups.com">i-rockmusik@googlegroups.com</a>)<br />
—————————————————————–<br />
Buat anda yang berminat untuk menonton film Kantata Takwa dan mengharapkan alur cerita yang jelas, sebaiknya urungkan niat anda. Untuk menikmati film ini, dibutuhkan ketajaman perasaan seni dan perenungan batin untuk membongkar pesan pesan moral yang disampaikan dalam bahasa personafikasi musik Kantata Takwa yang kemudian dikemas secara cantik dalam bingkai seluloid oleh Eros Djarot. Saya sungguh kagum, bahwa 15-16 tahun yang lalu, sineas Indonesia sudah mampu menghasilkan film sekelas Kantata Takwa. Hanya karena konstelasi politik sajalah, penanyangan film ini harus ditunda hingga tahun 2008.<br />
Seperti dugaan saya sebelumnya, film Kantata Takwa adalah pengejawantahan protes pekerja seni Indonesia yang merasa hak-haknya untuk berkreatifitas dirampas. Protes mereka juga mewakili rakyat kelas bawah yang tertindas di jaman Orde Baru. Kemuakan mereka atas penindasan hak-hak asasi manusia di jaman itu diwujudkan dalam lirik-lirik lagu yang gamblang tapi indah secara seni yang dibawakan oleh Iwan Fals, Sawung Djabo, W.S. Rendra, dan Yockie. Lebih indah lagi karena lagu2 ini dibawakan dalam pakem progressive dengan alur nada yang tidak teratur, terkadang menggunakan syncopated dan hocketing techniques. Luar biasa!!!<br />
Film ini dibuka dengan caption seorang rakyat Indonesia jelata (yang diperankan oleh Sawung Djabo) lari ketakutan ditengah hutan diburu oleh sepasukan tentara bersepatu boot, menggunakan masker gas, dan menyandang M16. Sekalipun dia dihantui ketakutan yang amat sangat, dia tidak lupa untuk mengingatkan teman-temannya untuk menyelamatkan diri. Sungguh kesetia kawanan yang luar biasa ditengah kekacauan!!!. Tapi, apa dinaya, kesetia kawanan rakyat kelas bawah berakhir tragis. Semua matiiii dibedil M16 yang dibawa oleh tentara bermasker gas (yang menurut hemat saya merupakan personafikasi dari rezim Orde Baru).<br />
Kisah tadi mengilhami WS Rendra (dan karena film ini dibuat sekitar tahun 1992/93, anda bisa melihat betapa mudanya WS Rendra saat itu) untuk menulis sebuah puisi. Saking terbiusnya saya dengan jalinan kata-kata beliau dan akting latar yang kuat dari para seniman yang tergabung dalam Bengker Teater WS Rendra (yang menggunakan topeng yang menutup 3/4 wajah), saya lupa untuk mencatat syair nya. Tapi pada dasarnya WS Rendra mengecam strategi pembangunan rezim Orde Baru yang banyak mengesampingkan kesejahteraan rakyat bawah.<br />
Kemudian seloid melompat untuk mengabadikan momen terbentuknya gerakan Kantata Takwa. Oke, mungkin kita semua bertanya apakah Setiawan Djodi merupakan refleksi yang pas untuk pekerja seni yang memprotes kebiadaban rezim Orde Baru terhadap rakyat kelas bawah. Terlepas dari status sosialnya and kemungkinan kedekatan beliau dengan rezim Orde Baru, saya melihat bahwa tanpa dukungan finansial Setiawan Djodi, Kantata Takwa tidak akan pernah ada. Yang menarik dari caption ini adalah beberapa pandangan pendiri Kantata Takwa yang mengidentifikasikan gerakan baru ini sebagai refleksi dari pandangan mereka tentang agama dan keagamaannya. Sekali lagi, jangan nilai pandangan mereka tentang konsep beragama dengan pandangan keagamaan yang mainstream. Kalau boleh saya berpendapat, nilai saja pandangan keagamaan mereka dari Tauhid Rububiyah, jangan nilai dari sisi Tauhid Uluhiyah, apalagi Tauhid Asma’ul Husna…<br />
Dari sini Eros Djarot mulai menggabungkan potongan-potongan konser Kantata Takwa di Stadion Bung Karno bulan Juni 1991 dengan caption-caption lepas yang menguatkan pesan moral yang dibawakan oleh Kantata Takwa. Sebagai contoh, dalam “Bento”,<br />
====<br />
Namaku Bento rumah real estate<br />
Mobilku banyak harta berlimpah<br />
Orang memanggilku bos eksekutive<br />
Tokoh papan atas atas s’galanya asyik . . . . . . . . .</p>
<p>Wajahku ganteng banyak simpanan<br />
Sekali lirik oke sajalah<br />
Bisnisku menjagal jagal apa saja<br />
Yang penting aku menang aku senang<br />
Persetan orang susah karena aku<br />
Yang penting asyik sekali lagi asyik………</p>
<p>Khotbah soal moral omong keadilan sarapan pagiku<br />
Aksi tipu-tipu lobbying dan upeti oh…  jagonya..<br />
Maling kelas teri bandit kelas coro itukan tong sampah<br />
Siapa yang mau berguru datang padaku</p>
<p>Sebut tiga kali namaku Bento…. Bento…. Bento…..<br />
Asyik…….!!!!!!  Asyik……</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Eros Djarot memulainya dengan perjumpaan Iwan Fals dengan segerombolan anak desa yang memimpikan hidup enak seperti Bento, melompat kepada saat Kantata Takwa membius 70.000 penonton di Stadion Bung Karno dengan lagu Bento dan ditutup dengan caption seorang makelar tanah yang diburu oleh rakyat desa yang marah. Sementara dalam Paman Doblang,<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Paman Doblang paman Doblang<br />
Mereka masukkan kamu kedalam sel yang gelap<br />
Tanpa lampu tanpa lubang cahaya<br />
Oh pengap</p>
<p>Ada hawa tak ada angkasa ( terkucil )<br />
Temanmu beratus ratus nyamuk semata ( terkunci )<br />
Tak tahu kapan pintu akan terbuka<br />
Kamu tak tahu dimana berada</p>
<p>Paman Doblang paman Doblang<br />
Apa katamu?</p>
<p>( …Ketika haus aku minum air dari kaleng karatan<br />
Sambil bersila aku mengarungi waktu<br />
Lepas dari jam, hari dan bulan Aku dipeluk oleh wibawa… )</p>
<p>Tidak berbentuk, tidak berupa, tidak bernama<br />
Aku istirahat disini<br />
Tenaga gaib memupuk jiwaku</p>
<p>Paman Doblang paman Doblang<br />
Di setiap jalan menghadang mastodon dan srigala<br />
Kamu terkurung dalam lingkaran<br />
Para pangeran meludahi kamu dari kereta kencana</p>
<p>Kaki kamu dirantai kebatang karang<br />
Kamu dikutuk dan disalahkan tanpa pengadilan<br />
Paman Doblang paman Doblang<br />
Bubur di piring timah didorong dengan kaki kedepanmu</p>
<p>Paman Doblang paman Doblang<br />
Apa katamu?</p>
<p>Kesadaran adalah matahari<br />
Adalah matahari adalah matahari<br />
Kesabaran adalah bumi<br />
Adalah bumi adalah bumi<br />
Keberanian menjadi cakrawala<br />
Menjadi cakrawala menjadi cakrawala</p>
<p>Dan perjuangan<br />
Adalah pelaksanaan kata kata<br />
Adalah pelaksanaan kata kata</p>
<p>Kesadaran adalah matahari<br />
Adalah matahari adalah matahari</p>
<p>Paman Doblang paman Doblang<br />
Apa katamu?</p>
<p>===<br />
Eros Djarot menampilkan WS Rendra sebagai pesakitan yang mempertanyakan nilai keadilan pengadilan di zaman Orde Baru. Sambil menarasikan lagu Paman Doblang, WS Rendra harus menghadapi hakim (menggunakan topeng) yang mempunyai bermacam-macam wajah. Pesan seni yang sangat indah, bahwa nilai keadilan di zaman Orde Baru adalah relatif ditentukan oleh penguasa.<br />
Dibalik sejumlah lagu Kantata Takwa yang dijadikan alur cerita personafikasi film yang berdurasi 65 menit ini, Eros Djarot juga berhasil menyisipkan adegan mengenaskan dimana satu persatu penggagas Kantata Takwa (perlambang pembela kebenaran) mati dibunuh secara sadis oleh tentara bermasker gas. Namun, pada akhirnya pimpinan tentara bermasker gas tadi ditangkap oleh rakyat yang marah. Ketakutannya terhadap amarah rakyat yang amat sangat, membuat pimpinan tentara bermasker gas tadi mati di kurungannya, sebelum pengadilan rakyat memutuskan amarnya…<br />
Hmmmm… mengingat film ini dibuat tahun 1992/93, saya bertanya tanya apakah Eros Djarot mempunyai bola kristal yang mampu memprediksikan kejadian besar di negeri ini tahun 1998 yang ditutup dengan wafatnya sang “Bapak Pembangunan”.<br />
Selamat menikmati film Kantata Takwa.</p>
<p>Salam,<br />
Rizal B. Prasetijo</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on A/ FDKV &#124; Fakultas Desain Komunikasi Visual by indarsjah tirtawidjaja</title>
		<link>http://dkvutama.wordpress.com#comment-4</link>
		<dc:creator>indarsjah tirtawidjaja</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 10:33:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-4</guid>
		<description>KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kekhadirat Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya penyusunan Standar Kompetensi Bidang Keahlian Komunikasi Grafis dapat diselesaikan. Standar ini merupakan langkah awal dari implementasi paradigma baru
dalam sistem pendidikan di Indonesia dengan berbasis pada standar kompetensi yang berkembang dalam industrinya.
Pendekatan berbasis kompetensi pada perkembangan industri diharapkan dapat mengantisipasi tantangan yang berkembang saat ini dimana konsep globalisasi memunculkan persaingan yang semakin ketat dengan tuntutan kualitas SDM yang memenuhi kualifikasi internasional.

Dalam penyusunan standar kompetensi ini banyak pihak yang telah dilibatkan dan disertakan, baik sebagai Project Reference Group (PRG), Stakeholders, narasumber, pakar, undangan, maupun sebagai partisipan. Ucapan terimakasih dan penghargaan kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
standar kompetensi bidang keahlian Komunikasi Grafis ini.
Akhirnya dengan kerendahan hati semoga hasil kerja seluruh tim di atas dapat memberikan manfaat bagi pengembangan SDM dalam bidang Komunikasi Grafis di masa mendatang.

Bandung, Desember 2003
Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat
Institut Teknologi Bandung

ii
Berita Acara Workshop Nasional Komunikasi Grafis
Pada bulan Desember 2003 telah dilaksanakan Workshop Nasional untuk Penyusunan/Penyempurnaan Standar Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis yang diselenggarakan oleh LPPM-ITB atas kerjasama dengan DIKMENJUR.
Hasil Workshop Nasional ini merupakan pemikiran bersama seluruh peserta sebagai kesepakatan Standar Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis dan akan diajukan menjadi Standar Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis secara Nasional. Dalam
proses pelaksanaan lebih lanjut seluruh peserta mempercayakan sepenuhnya pengembangan dan penyempurnaan kepada LPPM-ITB.

Bandung, 6 Desember 2003
Tertanda
Reperesentasi Peserta Workshop Nasional
Nama TTD
1. Drs. Priyanto S.
Team Leader Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis
2. Drs. S. Prinka
Perwakilan Asosiasi Desain Grafis Indonesia
3. Danton Sihombing, MA
Perwakilan Pusat Desain Nasional
4. Gunadi Hadikusuma
Perwakilan Industri
5. Sari Wulandari, S.Sn.
Perwakilan Industri
6. M. Arief Budiman, S.Sn.
Perwakilan Industri
7. Drs. Indra Gunadharma
Perwakilan Industri
8. Drs. Andi Yudha
Perwakilan Industri
9. Drs. Alfonzo RK, M.Sn.
Perwakilan Pendidikan
10.Drs. Deden Maulana
Perwakilan Pendidikan

iii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………… /i
Lembar Pengesahan…………………………...………………………… /ii
Daftar Isi ………………………………………………………………… /iii
Daftar Anggota Tim Pengembang
Standar Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis ……………………….. /vii
Daftar Project Reference Group (PRG)
Bidang Komunikasi Grafis ……………………………………………… /ix
Daftar Responden …………………………………….…………………. /xii
Daftar Istilah ……………………………………………………………. /xiv

BAB.1
PENDAHULUAN /hal.1
1.1. Tujuan /hal. 2
1.2. Sasaran /hal. 2
1.3. Ruang Lingkup /hal. 2
1.4. Hasil Pekerjaan (Deliverables) /hal. 3

BAB.2
STANDAR KOMPETENSI /hal. 4
2.1. Pengertian /hal. 4
2.2 Bentuk Standar /hal. 4
2.3. Kompetensi Kunci /hal. 5
2.4. Jenjang/Level Kompetensi /hal. 5
2.5. Kedudukan Standar Kompetensi dalam
Kerangka Sistem Pengembangan SDM /hal. 6
2.6. Pengembangan Standar /hal. 7
2.7. Model Pendekatan Pengembangan Standar /hal. 7
2.8. Teori Dasar-dasar Psikologi yang Dipergunakan
dalam Pengembangan Standar /hal. 8
iv

BAB.3
BIDANG KOMUNIKASI GRAFIS /hal. 10
3.1. Komunikasi Grafis dan Komunikasi Visual /hal. 10
3.2. Pengertiam dan Lingkup Komunikasi Grafis /hal. 11
3.2.1. Desain Grafis /hal. 13
3.2.2. Ilustrasi /hal. 13
3.2.3. Fotografi /hal. 13
3.3. Prakondisi Keja /hal. 14
3.3.1. Sikap Kerja (Attitude) /hal. 14
3.3.2. Pengetahuan, Ketrampilan, Kepekaan
(Skill &amp; Knowledge&amp; Sensibility) /hal. 14
3.3.3. Kreativitas (Creativity) /hal. 15
3.4. Batasan Lingkup Penyusunan /hal. 15
3.5. Profil Kebutuhan SDM Komunikasi Grafis Indonesia /hal. 17

BAB. 4
KOMPETENSI BIDANG KOMUNIKASI GRAFIS /hal. 19
4.1. Format Standar Kompetensi /hal. 19
4.2. Kompetensi Kunci dan Leveling /hal. 21
4.3. Sub Bidang dan Konsentrasi Komunikasi Grafis /hal. 22
4.3.1. Proses Persiapan/ Pra Produksi /hal. 22
4.3.2. Proses Pelaksanaan/Produksi /hal. 23
4.3.3. Proses Akhir/Finishing/Pasca Produksi /hal. 23
4.4. Sistem Penomoran Standar Kompetensi
Bidang Komunikasi Grafis /hal. 23
4.5. Daftar Unit Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis /hal 26
4.6. Unit-Unit Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis /hal. 28
4.6.1. Unit Kompetensi Sub Bidang Desain Grafis /hal. 28
4.6.2. Unit Kompetensi Sub Bidang Ilustrasi /hal. 29
4.6.3. Unit Kompetensi Sub Bidang Fotografi /hal. 29
v
4.7. Level Kualifikasi Kompetensi, Level Jabatan dan
Rekomendasi Level Kualifikasi untuk Tingkat
SMK Bidang Komunikasi Grafis /hal. 30
A. Lampiran Dokumen Standar Unit Kompetensi
Sub Bidang Desain Grafis /A-1
B. Lampiran Dokumen Standar Unit Kompetensi
Sub Bidang Ilustrasi /B-1
C. Lampiran Dokumen Standar Unit Kompetensi
Sub Bidang Fotografi /C-1
D. Lampiran Level Kualifikasi Pekerjaan
Sub Bidang Desain Grafis, Ilustrasi, dan Fotografi /D-1
E. Lampiran Level Kualifikasi Jabatan
Sub Bidang Desain Grafis, Ilustrasi, dan Fotografi /E-1
F. Lampiran Rekomendasi Level Kualifikasi untuk
Tingkat Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Sub Bidang Desain Grafis, Ilustrasi, dan Fotografi /F-1

BAB. 5
PEDOMAN UMUM PENGUJIAN DAN SERTIFIKASI /hal. 34
5.1. Umum /hal. 34
5.2. Gambaran Umum Sistem Pengujian /hal. 36
5.2.1. Prinsip Dasar Pengujian Kompetensi /hal. 36
5.2.1.1. Prinsip-prinsip Pengujian /hal. 36
5.2.1.2. Metode Pengujian /hal. 37
5.2.1.3. Bahan Acuan untuk Pengujian /hal. 38
5.2.1.4. Kualifikasi Penguji /hal. 38
5.2.1.5. Panduan Penyelenggaraan Pengujian /hal. 39
5.2.2. Tata Cara Penilaian /hal. 42
5.2.2.1. Metoda Penilaian /hal. 42
5.2.2.2. Keterampilan Perusahaan /hal. 42
5.2.2.3. Jenis-jenis Keterampilan /hal. 43
5.2.2.4. Kriteria Prestasi /hal. 43
vi

BAB. 6
PENUTUP /hal. 44
DAFTAR PUSTAKA /hal. 45
vii
Daftar Anggota Tim Penyusun/Pengembang Standar Kompetensi

Bidang Keahlian Komunikasi Grafis
Team Leader:
Drs. Priyanto Sunarto.
Pakar desain komunikasi visual, desain grafis, ilustrasi, dan kartun. Ketua KBK
ilustrasi &amp; seni sekuensial, staf pengajar senior Program Studi Desain Komunikasi
Visual FSRD-ITB. Anggota MPKN, ketua bidang Grafis. Sedang studi lanjut
Program Doktoral (S3) dalam bidang Desain.
Ahli Standarisasi Kompetensi:
Drs. Irfansyah.
Pakar desain komunikasi visual, rupa dasar, animasi, multimedia, dan komputer
grafis. Staf pengajar Program Studi Desain Komunikasi Visual FSRD-ITB.

Ahli Bidang Desain Komunikasi Visual:
1. Drs. Indarsjah Tirtawidjaja,
Pakar desain komunikasi visual, desain grafis, ilustrasi, periklanan. Staf pengajar senior Program Studi Desain Komunikasi Visual FSRD-ITB. Sedang studi lanjut
Program Magister (S2) dalam bidang Pendidikan.
2. Drs. Budiman,
Pakar rupa dasar, desain grafis, dan ilustrasi. Staf pengajar Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama. Sedang studi lanjut Program Magister
(S2) dalam bidang Pendidikan.
3. Triyadi Guntur, S.Sn.
Pakar desain grafis, dan ilustrasi. Staf pengajar Program Studi Desain Komunikasi
Visual FSRD-ITB. Fakultas DKV. Sedang studi lanjut Program Magister (S2) dalam bidang seni.
viii
Ahli Bidang Pendidikan Sekolah Menengah Seni Rupa:
Drs. Nana Sutedjo.
Pakar desain grafis, dan ilustrasi. Staf pengajar Sekolah Menengah Kejuruan Seni Rupa, Bandung.
Ahli Bidang Psikologi:
Lies N. Budiarti, S.Psi.
Pakar psikologi. Staf pengajar Program Studi Desain Komunikasi Visual FSRD –
ITB untuk mata kuliah Psikologi Persepsi, Psikologi Sosial dan Metode Penelitian.
ix
Project Reference Group (PRG) dan Stakeholders Bidang Komunikasi Grafis
Asosiasi Terkait Bidang Komunikasi Grafis:
1. Asosiasi Desain Grafis Indonesia
S. Prinka – Anggota Majelis Desain
Jln. Pegambiran 591, Jakarta 13220
Tlp / Facs (rmh); (021) 861 6589
2. Pusat Desain Nasional
Danton Sihombing, MA
Jl. Gatot Subroto 52-52 Jakarta
Tlp: 62-21-525 1729, 525 5509 ext. 2178 Fax. 62-21-5251729
Lembaga Pendidikan:
1. FSR – IKJ
Siti Turmini S.Sn. – Pembantu Dekan I, Pengajar Desain Komunikasi Visual
Jl. Cikini Raya 78, Jakarta 10330,
2. PS DKV FSRD-ITB
Drs. Alfonzo RK., M.Sn. – Ketua Kelompok Bidang Keilmuan Fotografi

Jl. Ganesha 10, Bandung 40132,
Telp./Fax. (022) 2516567
3. SMKN/SMSR Bandung
Drs. Wahyu Nugraha – Staf Pengajar Seni Rupa
Jl. Cijawura Hilir No. 2 , Bandung 40287
Telp. (022) 756 0358, Fax. (022) 750 5763
4. STIKOM Interstudi
Drs. Iwan Gunawan – Pengajar Desain Grafis dan Ilustrasi
Jl. Panglima Polim 100 Kebayoran Baru 12140, Jakarta
Telp. (021) 720 0760, Fax. (021) 725 5721
x
5. Akademi Desain Visi Yogyakarta
Sudjadi Tjipto R. S.Sn. – Ketua Jurusan Desain Komunikasi Visual
Jl. Kapt. P. Tendean, Gg. Puntodewo No. 7 Yogyakarta
Telp./Fax. (0274) 388680, 377787, 388681
6. FDKV – Universitas Widyatama
Drs. Ondi Kuswandi - Pembantu Dekan I , Pengajar Fotografi
Jl. Cikutra 204, Bandung, Telp. (022) 721 9517
Media Massa:
1. PT. TEMPO INTI MEDIA, Tbk (majalah)
Drs. Gilang Rahadian – Redaktur Tata Muka
Jl. Proklamasi No. 72 Jakarta 10320
Telp. (021) 3916160, 39899361 (hunting)
Fax. Redaksi: (021) 3921947, 3156331
Penerbitan:
1. Penerbit MIZAN
Drs. Andi Yudha – General Manager DAR
Jl Yodkali 16 Bandung
Telp. (022)720 703 Fax. (022) 720 7038
Fotografi:
1. JONAS PHOTO
Gunadi Hadikusuma - Pimpinan
Jl. Banda 38 Bandung, Telp./Fax/ (022) 2516567
2. Fotografer Profesional
Andhika Prastya ST, M.Sn.
xi
Advertising &amp; Production House:
1. Dentsu Indonesia
Drs. Indra Gunadharma – Creative Director
Gedung Graha Niaga Lt. 22
Jl. Jend. Sudirman
Telp. (021) 2505020, 2505025,
Fax. (021) 2505010
Jakarta 12190
2. PT. Petakumpet
M. Arif Budiman, S.Sn. – Vice President
Jl. Gedongkiwo MJ I No. 1001
Telp. (0274) 373847
Yogyakarta 55142
3. PT. Gagas Kreasi Visual Mandiri
Drs. Oki Hamka – Direktur Utama
Jl. Dalem Kaum 130 C Lt.4, Bandung
Telp./Fax. (022) 4210752
4. C PLUS BRANDING + CONSULTANTS
Sari Wulandari, S.Sn – Creative Consultant
Jl. Bendi Raya 14 Jakarta
xii
Daftar Responden
Daftar Responden
No. Nama Instansi/Lembaga/Industri
01. Drs. S. Prinka Asosiasi Desain Grafis Indonesia
02. Danton Sihombing, MA Pusat Desain Nasional
03. Siti Turmini, S.Sn FSR – IKJ
04. Drs. Alfonzo RK., M.Sn. PS DKV FSRD – ITB
05. Drs. Wahyu Nugraha SMKN/SMSR Bandung
06. Drs. Iwan Gunawan STIKOM Interstudi Jakarta
07. Sudjadi Tjipto R., S.Sn. Akademi Desain Visi Yogyakarta
08. Drs. Ondi Kuswandi FDKV – Universitas Widyatama
09. Drs. Gilang Rahadian PT. TEMPO INTI MEDIA, Tbk
10. Drs. Andi Yudha Penerbit MIZAN DAR!
11. Drs. Indra Gunadharma Dentsu Indonesia
12. M. Arief Budiman, S.Sn. PT. Petakumpet
13 Drs. Oki Hamka PT. Gagas Kreasi Visual Mandiri
14. Sari Wulandari, S.Sn. C PLUS Branding + Consultant
15. Nurkinanti Laraskusuma, S.Sn. Narasumber- Desain Grafis (C Plus)
16. Gunadi Hadikusuma Narasumber- Fotografi (JONAS)
17. Andhika Prasetya, ST, M.Sn. Narasumber - Fotografi
18. Drs. Iman Sujudi Narasumber - Desain Grafis/Ilustrasi
19. Drs. Rudi Farid Narasumber - Desain Grafis
20. Drs. T. Sutanto, M.Sc. Narasumber - Desain Grafis
21. Hafiz Akhmad, S.Sn. Narasumber – Ilustrasi
22. Dra. Sandra Tjahyani, M.DS. Narasumber – Periklanan
23. Dra. Ifa Safira Narasumber - Desain Grafis
24. Salman Faridi Narasumber - Penerbit MIZAN DAR!
xiii
Daftar Responden
No. Nama Instansi/Lembaga/Industri
25. Djodi S. Narasumber - Penerbit ITB
26. Yon Aidil Narasumber - Penerbit MIZAN DAR!
25. Egi Anwari Narasumber - Pusat Desain Nasional
26. Drs. Umarhadi, M.Sn. Narasumber - ISI Yogya
27. Dra. Nina Nurviana Narasumber - Animik World Bandung
28. Drs. Dadang Mulyana Narasumber - Stikom Interstudi Jakarta
29. Drs. Baskoro SB Narasumber – Modern School of Design
(MSD) Yogya
-----------------------------------------------------------------------------------
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>KATA PENGANTAR</p>
<p>Dengan memanjatkan puji syukur kekhadirat Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya penyusunan Standar Kompetensi Bidang Keahlian Komunikasi Grafis dapat diselesaikan. Standar ini merupakan langkah awal dari implementasi paradigma baru<br />
dalam sistem pendidikan di Indonesia dengan berbasis pada standar kompetensi yang berkembang dalam industrinya.<br />
Pendekatan berbasis kompetensi pada perkembangan industri diharapkan dapat mengantisipasi tantangan yang berkembang saat ini dimana konsep globalisasi memunculkan persaingan yang semakin ketat dengan tuntutan kualitas SDM yang memenuhi kualifikasi internasional.</p>
<p>Dalam penyusunan standar kompetensi ini banyak pihak yang telah dilibatkan dan disertakan, baik sebagai Project Reference Group (PRG), Stakeholders, narasumber, pakar, undangan, maupun sebagai partisipan. Ucapan terimakasih dan penghargaan kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan<br />
standar kompetensi bidang keahlian Komunikasi Grafis ini.<br />
Akhirnya dengan kerendahan hati semoga hasil kerja seluruh tim di atas dapat memberikan manfaat bagi pengembangan SDM dalam bidang Komunikasi Grafis di masa mendatang.</p>
<p>Bandung, Desember 2003<br />
Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat<br />
Institut Teknologi Bandung</p>
<p>ii<br />
Berita Acara Workshop Nasional Komunikasi Grafis<br />
Pada bulan Desember 2003 telah dilaksanakan Workshop Nasional untuk Penyusunan/Penyempurnaan Standar Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis yang diselenggarakan oleh LPPM-ITB atas kerjasama dengan DIKMENJUR.<br />
Hasil Workshop Nasional ini merupakan pemikiran bersama seluruh peserta sebagai kesepakatan Standar Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis dan akan diajukan menjadi Standar Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis secara Nasional. Dalam<br />
proses pelaksanaan lebih lanjut seluruh peserta mempercayakan sepenuhnya pengembangan dan penyempurnaan kepada LPPM-ITB.</p>
<p>Bandung, 6 Desember 2003<br />
Tertanda<br />
Reperesentasi Peserta Workshop Nasional<br />
Nama TTD<br />
1. Drs. Priyanto S.<br />
Team Leader Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis<br />
2. Drs. S. Prinka<br />
Perwakilan Asosiasi Desain Grafis Indonesia<br />
3. Danton Sihombing, MA<br />
Perwakilan Pusat Desain Nasional<br />
4. Gunadi Hadikusuma<br />
Perwakilan Industri<br />
5. Sari Wulandari, S.Sn.<br />
Perwakilan Industri<br />
6. M. Arief Budiman, S.Sn.<br />
Perwakilan Industri<br />
7. Drs. Indra Gunadharma<br />
Perwakilan Industri<br />
8. Drs. Andi Yudha<br />
Perwakilan Industri<br />
9. Drs. Alfonzo RK, M.Sn.<br />
Perwakilan Pendidikan<br />
10.Drs. Deden Maulana<br />
Perwakilan Pendidikan</p>
<p>iii<br />
DAFTAR ISI<br />
Kata Pengantar…………………………………………………………… /i<br />
Lembar Pengesahan…………………………&#8230;………………………… /ii<br />
Daftar Isi ………………………………………………………………… /iii<br />
Daftar Anggota Tim Pengembang<br />
Standar Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis ……………………….. /vii<br />
Daftar Project Reference Group (PRG)<br />
Bidang Komunikasi Grafis ……………………………………………… /ix<br />
Daftar Responden …………………………………….…………………. /xii<br />
Daftar Istilah ……………………………………………………………. /xiv</p>
<p>BAB.1<br />
PENDAHULUAN /hal.1<br />
1.1. Tujuan /hal. 2<br />
1.2. Sasaran /hal. 2<br />
1.3. Ruang Lingkup /hal. 2<br />
1.4. Hasil Pekerjaan (Deliverables) /hal. 3</p>
<p>BAB.2<br />
STANDAR KOMPETENSI /hal. 4<br />
2.1. Pengertian /hal. 4<br />
2.2 Bentuk Standar /hal. 4<br />
2.3. Kompetensi Kunci /hal. 5<br />
2.4. Jenjang/Level Kompetensi /hal. 5<br />
2.5. Kedudukan Standar Kompetensi dalam<br />
Kerangka Sistem Pengembangan SDM /hal. 6<br />
2.6. Pengembangan Standar /hal. 7<br />
2.7. Model Pendekatan Pengembangan Standar /hal. 7<br />
2.8. Teori Dasar-dasar Psikologi yang Dipergunakan<br />
dalam Pengembangan Standar /hal. 8<br />
iv</p>
<p>BAB.3<br />
BIDANG KOMUNIKASI GRAFIS /hal. 10<br />
3.1. Komunikasi Grafis dan Komunikasi Visual /hal. 10<br />
3.2. Pengertiam dan Lingkup Komunikasi Grafis /hal. 11<br />
3.2.1. Desain Grafis /hal. 13<br />
3.2.2. Ilustrasi /hal. 13<br />
3.2.3. Fotografi /hal. 13<br />
3.3. Prakondisi Keja /hal. 14<br />
3.3.1. Sikap Kerja (Attitude) /hal. 14<br />
3.3.2. Pengetahuan, Ketrampilan, Kepekaan<br />
(Skill &amp; Knowledge&amp; Sensibility) /hal. 14<br />
3.3.3. Kreativitas (Creativity) /hal. 15<br />
3.4. Batasan Lingkup Penyusunan /hal. 15<br />
3.5. Profil Kebutuhan SDM Komunikasi Grafis Indonesia /hal. 17</p>
<p>BAB. 4<br />
KOMPETENSI BIDANG KOMUNIKASI GRAFIS /hal. 19<br />
4.1. Format Standar Kompetensi /hal. 19<br />
4.2. Kompetensi Kunci dan Leveling /hal. 21<br />
4.3. Sub Bidang dan Konsentrasi Komunikasi Grafis /hal. 22<br />
4.3.1. Proses Persiapan/ Pra Produksi /hal. 22<br />
4.3.2. Proses Pelaksanaan/Produksi /hal. 23<br />
4.3.3. Proses Akhir/Finishing/Pasca Produksi /hal. 23<br />
4.4. Sistem Penomoran Standar Kompetensi<br />
Bidang Komunikasi Grafis /hal. 23<br />
4.5. Daftar Unit Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis /hal 26<br />
4.6. Unit-Unit Kompetensi Bidang Komunikasi Grafis /hal. 28<br />
4.6.1. Unit Kompetensi Sub Bidang Desain Grafis /hal. 28<br />
4.6.2. Unit Kompetensi Sub Bidang Ilustrasi /hal. 29<br />
4.6.3. Unit Kompetensi Sub Bidang Fotografi /hal. 29<br />
v<br />
4.7. Level Kualifikasi Kompetensi, Level Jabatan dan<br />
Rekomendasi Level Kualifikasi untuk Tingkat<br />
SMK Bidang Komunikasi Grafis /hal. 30<br />
A. Lampiran Dokumen Standar Unit Kompetensi<br />
Sub Bidang Desain Grafis /A-1<br />
B. Lampiran Dokumen Standar Unit Kompetensi<br />
Sub Bidang Ilustrasi /B-1<br />
C. Lampiran Dokumen Standar Unit Kompetensi<br />
Sub Bidang Fotografi /C-1<br />
D. Lampiran Level Kualifikasi Pekerjaan<br />
Sub Bidang Desain Grafis, Ilustrasi, dan Fotografi /D-1<br />
E. Lampiran Level Kualifikasi Jabatan<br />
Sub Bidang Desain Grafis, Ilustrasi, dan Fotografi /E-1<br />
F. Lampiran Rekomendasi Level Kualifikasi untuk<br />
Tingkat Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)<br />
Sub Bidang Desain Grafis, Ilustrasi, dan Fotografi /F-1</p>
<p>BAB. 5<br />
PEDOMAN UMUM PENGUJIAN DAN SERTIFIKASI /hal. 34<br />
5.1. Umum /hal. 34<br />
5.2. Gambaran Umum Sistem Pengujian /hal. 36<br />
5.2.1. Prinsip Dasar Pengujian Kompetensi /hal. 36<br />
5.2.1.1. Prinsip-prinsip Pengujian /hal. 36<br />
5.2.1.2. Metode Pengujian /hal. 37<br />
5.2.1.3. Bahan Acuan untuk Pengujian /hal. 38<br />
5.2.1.4. Kualifikasi Penguji /hal. 38<br />
5.2.1.5. Panduan Penyelenggaraan Pengujian /hal. 39<br />
5.2.2. Tata Cara Penilaian /hal. 42<br />
5.2.2.1. Metoda Penilaian /hal. 42<br />
5.2.2.2. Keterampilan Perusahaan /hal. 42<br />
5.2.2.3. Jenis-jenis Keterampilan /hal. 43<br />
5.2.2.4. Kriteria Prestasi /hal. 43<br />
vi</p>
<p>BAB. 6<br />
PENUTUP /hal. 44<br />
DAFTAR PUSTAKA /hal. 45<br />
vii<br />
Daftar Anggota Tim Penyusun/Pengembang Standar Kompetensi</p>
<p>Bidang Keahlian Komunikasi Grafis<br />
Team Leader:<br />
Drs. Priyanto Sunarto.<br />
Pakar desain komunikasi visual, desain grafis, ilustrasi, dan kartun. Ketua KBK<br />
ilustrasi &amp; seni sekuensial, staf pengajar senior Program Studi Desain Komunikasi<br />
Visual FSRD-ITB. Anggota MPKN, ketua bidang Grafis. Sedang studi lanjut<br />
Program Doktoral (S3) dalam bidang Desain.<br />
Ahli Standarisasi Kompetensi:<br />
Drs. Irfansyah.<br />
Pakar desain komunikasi visual, rupa dasar, animasi, multimedia, dan komputer<br />
grafis. Staf pengajar Program Studi Desain Komunikasi Visual FSRD-ITB.</p>
<p>Ahli Bidang Desain Komunikasi Visual:<br />
1. Drs. Indarsjah Tirtawidjaja,<br />
Pakar desain komunikasi visual, desain grafis, ilustrasi, periklanan. Staf pengajar senior Program Studi Desain Komunikasi Visual FSRD-ITB. Sedang studi lanjut<br />
Program Magister (S2) dalam bidang Pendidikan.<br />
2. Drs. Budiman,<br />
Pakar rupa dasar, desain grafis, dan ilustrasi. Staf pengajar Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama. Sedang studi lanjut Program Magister<br />
(S2) dalam bidang Pendidikan.<br />
3. Triyadi Guntur, S.Sn.<br />
Pakar desain grafis, dan ilustrasi. Staf pengajar Program Studi Desain Komunikasi<br />
Visual FSRD-ITB. Fakultas DKV. Sedang studi lanjut Program Magister (S2) dalam bidang seni.<br />
viii<br />
Ahli Bidang Pendidikan Sekolah Menengah Seni Rupa:<br />
Drs. Nana Sutedjo.<br />
Pakar desain grafis, dan ilustrasi. Staf pengajar Sekolah Menengah Kejuruan Seni Rupa, Bandung.<br />
Ahli Bidang Psikologi:<br />
Lies N. Budiarti, S.Psi.<br />
Pakar psikologi. Staf pengajar Program Studi Desain Komunikasi Visual FSRD –<br />
ITB untuk mata kuliah Psikologi Persepsi, Psikologi Sosial dan Metode Penelitian.<br />
ix<br />
Project Reference Group (PRG) dan Stakeholders Bidang Komunikasi Grafis<br />
Asosiasi Terkait Bidang Komunikasi Grafis:<br />
1. Asosiasi Desain Grafis Indonesia<br />
S. Prinka – Anggota Majelis Desain<br />
Jln. Pegambiran 591, Jakarta 13220<br />
Tlp / Facs (rmh); (021) 861 6589<br />
2. Pusat Desain Nasional<br />
Danton Sihombing, MA<br />
Jl. Gatot Subroto 52-52 Jakarta<br />
Tlp: 62-21-525 1729, 525 5509 ext. 2178 Fax. 62-21-5251729<br />
Lembaga Pendidikan:<br />
1. FSR – IKJ<br />
Siti Turmini S.Sn. – Pembantu Dekan I, Pengajar Desain Komunikasi Visual<br />
Jl. Cikini Raya 78, Jakarta 10330,<br />
2. PS DKV FSRD-ITB<br />
Drs. Alfonzo RK., M.Sn. – Ketua Kelompok Bidang Keilmuan Fotografi</p>
<p>Jl. Ganesha 10, Bandung 40132,<br />
Telp./Fax. (022) 2516567<br />
3. SMKN/SMSR Bandung<br />
Drs. Wahyu Nugraha – Staf Pengajar Seni Rupa<br />
Jl. Cijawura Hilir No. 2 , Bandung 40287<br />
Telp. (022) 756 0358, Fax. (022) 750 5763<br />
4. STIKOM Interstudi<br />
Drs. Iwan Gunawan – Pengajar Desain Grafis dan Ilustrasi<br />
Jl. Panglima Polim 100 Kebayoran Baru 12140, Jakarta<br />
Telp. (021) 720 0760, Fax. (021) 725 5721<br />
x<br />
5. Akademi Desain Visi Yogyakarta<br />
Sudjadi Tjipto R. S.Sn. – Ketua Jurusan Desain Komunikasi Visual<br />
Jl. Kapt. P. Tendean, Gg. Puntodewo No. 7 Yogyakarta<br />
Telp./Fax. (0274) 388680, 377787, 388681<br />
6. FDKV – Universitas Widyatama<br />
Drs. Ondi Kuswandi &#8211; Pembantu Dekan I , Pengajar Fotografi<br />
Jl. Cikutra 204, Bandung, Telp. (022) 721 9517<br />
Media Massa:<br />
1. PT. TEMPO INTI MEDIA, Tbk (majalah)<br />
Drs. Gilang Rahadian – Redaktur Tata Muka<br />
Jl. Proklamasi No. 72 Jakarta 10320<br />
Telp. (021) 3916160, 39899361 (hunting)<br />
Fax. Redaksi: (021) 3921947, 3156331<br />
Penerbitan:<br />
1. Penerbit MIZAN<br />
Drs. Andi Yudha – General Manager DAR<br />
Jl Yodkali 16 Bandung<br />
Telp. (022)720 703 Fax. (022) 720 7038<br />
Fotografi:<br />
1. JONAS PHOTO<br />
Gunadi Hadikusuma &#8211; Pimpinan<br />
Jl. Banda 38 Bandung, Telp./Fax/ (022) 2516567<br />
2. Fotografer Profesional<br />
Andhika Prastya ST, M.Sn.<br />
xi<br />
Advertising &amp; Production House:<br />
1. Dentsu Indonesia<br />
Drs. Indra Gunadharma – Creative Director<br />
Gedung Graha Niaga Lt. 22<br />
Jl. Jend. Sudirman<br />
Telp. (021) 2505020, 2505025,<br />
Fax. (021) 2505010<br />
Jakarta 12190<br />
2. PT. Petakumpet<br />
M. Arif Budiman, S.Sn. – Vice President<br />
Jl. Gedongkiwo MJ I No. 1001<br />
Telp. (0274) 373847<br />
Yogyakarta 55142<br />
3. PT. Gagas Kreasi Visual Mandiri<br />
Drs. Oki Hamka – Direktur Utama<br />
Jl. Dalem Kaum 130 C Lt.4, Bandung<br />
Telp./Fax. (022) 4210752<br />
4. C PLUS BRANDING + CONSULTANTS<br />
Sari Wulandari, S.Sn – Creative Consultant<br />
Jl. Bendi Raya 14 Jakarta<br />
xii<br />
Daftar Responden<br />
Daftar Responden<br />
No. Nama Instansi/Lembaga/Industri<br />
01. Drs. S. Prinka Asosiasi Desain Grafis Indonesia<br />
02. Danton Sihombing, MA Pusat Desain Nasional<br />
03. Siti Turmini, S.Sn FSR – IKJ<br />
04. Drs. Alfonzo RK., M.Sn. PS DKV FSRD – ITB<br />
05. Drs. Wahyu Nugraha SMKN/SMSR Bandung<br />
06. Drs. Iwan Gunawan STIKOM Interstudi Jakarta<br />
07. Sudjadi Tjipto R., S.Sn. Akademi Desain Visi Yogyakarta<br />
08. Drs. Ondi Kuswandi FDKV – Universitas Widyatama<br />
09. Drs. Gilang Rahadian PT. TEMPO INTI MEDIA, Tbk<br />
10. Drs. Andi Yudha Penerbit MIZAN DAR!<br />
11. Drs. Indra Gunadharma Dentsu Indonesia<br />
12. M. Arief Budiman, S.Sn. PT. Petakumpet<br />
13 Drs. Oki Hamka PT. Gagas Kreasi Visual Mandiri<br />
14. Sari Wulandari, S.Sn. C PLUS Branding + Consultant<br />
15. Nurkinanti Laraskusuma, S.Sn. Narasumber- Desain Grafis (C Plus)<br />
16. Gunadi Hadikusuma Narasumber- Fotografi (JONAS)<br />
17. Andhika Prasetya, ST, M.Sn. Narasumber &#8211; Fotografi<br />
18. Drs. Iman Sujudi Narasumber &#8211; Desain Grafis/Ilustrasi<br />
19. Drs. Rudi Farid Narasumber &#8211; Desain Grafis<br />
20. Drs. T. Sutanto, M.Sc. Narasumber &#8211; Desain Grafis<br />
21. Hafiz Akhmad, S.Sn. Narasumber – Ilustrasi<br />
22. Dra. Sandra Tjahyani, M.DS. Narasumber – Periklanan<br />
23. Dra. Ifa Safira Narasumber &#8211; Desain Grafis<br />
24. Salman Faridi Narasumber &#8211; Penerbit MIZAN DAR!<br />
xiii<br />
Daftar Responden<br />
No. Nama Instansi/Lembaga/Industri<br />
25. Djodi S. Narasumber &#8211; Penerbit ITB<br />
26. Yon Aidil Narasumber &#8211; Penerbit MIZAN DAR!<br />
25. Egi Anwari Narasumber &#8211; Pusat Desain Nasional<br />
26. Drs. Umarhadi, M.Sn. Narasumber &#8211; ISI Yogya<br />
27. Dra. Nina Nurviana Narasumber &#8211; Animik World Bandung<br />
28. Drs. Dadang Mulyana Narasumber &#8211; Stikom Interstudi Jakarta<br />
29. Drs. Baskoro SB Narasumber – Modern School of Design<br />
(MSD) Yogya<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on JENJANG PROFESIONAL/ Diploma by indarsjah tirtawidjaja</title>
		<link>http://dkvutama.wordpress.com/2008/10/21/hello-world/#comment-3</link>
		<dc:creator>indarsjah tirtawidjaja</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 10:23:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-3</guid>
		<description>(dikutip dari internet - Rika - ALCoB Indonesia)

Dear All,

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari hasil interaksi dengan teman-teman baru di ALCoB Indonesia yang baru saja saya temui secara langsung di AIV 2007 Denpasar kemarin. Terus terang, saya merasa feel at home, betah ada dikomunitas saya yang baru ini. Orang pertama yang menginspirasi saya adalah obrolan di kereta api dengan Pak Wuryanta (hampir 30 jam!, sampe gempor badan ini), kemudian obrolan saya dengan Bu Indri Malang, Pak Taufik cs. dalam grup presentasinya, Omongannya Mbak Lies saat malam terakhir dalam persiapan presentasi kelompok dan presentasi kelompoknya  “Ema” Enung yang cantik dari Sumedang tea.

Dalam kesempatan yang terpisah itu tersirat satu masalah yang seringkali dialami dan menjadi kendala bagi hampir kebanyakan orang Indonesia, yaitu Bagaimana menguasai Bahasa Inggris untuk mendukung pencapaian pribadinya. Dari apa yang saya amati ternyata ada satu kesalahan yang seringkali dilakukan untuk menguasai Bahasa Inggris tersebut, yaitu kita selalu BELAJAR BAHASA INGGRIS dan bukan MENGGUNAKAN BAHASA INGGRIS. Ini adalah tantangan yang oleh GURU-GURU BAHASA INGGRIS harus ditaklukan. Jadi…dalam kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman tentang apa yang telah kami, MGMP Bahasa Inggris di SMAN 1 Subang telah lakukan. Maaf kalau jadinya bersifat terlalu teknis.

Kami menyadari, dari pengalaman kami mengajar ternyata alokasi waktu yang tersedia untuk pembelajaran Bahasa Inggris sangat tidak cukup karena beban kurikulum yang padat sementara kami dituntut agar peserta didik dan lulusan dapat menguasai empat keterampilan berbahasa yaitu LISTENING, READING, SPEAKING dan WRITING. Dengan jumlah  rata-rata 36 – 40 siswa didalam satu kelas maka kesempatan untuk penguasaan keterampilan itu sangat sedikit. Maka dari hasil pengamatan itu  kami menambah satu mata pelajaran lagi yang kami sebut VOKASIONAL BAHASA INGGRIS dan alokasi waktunya adalah 2 x 45 menit perminggu perkelas untuk seluruh tingkatan kelas.

Patut diketahui bahwa pelajaran VOKASIONAL BAHASA INGGRIS ini tidak mengajarkan Bahasa Inggris vokasional seperti English for Tourism atau English for Banking atau English for Technical Engineering, dll. Pelajaran Vokasional Bahasa Inggris ini adalah pelajaran yang melatih siswa untuk berpikir secara KRITIS, ANALITIS dan LOGIS namun dilaksanakan dalam Bahasa Inggris. Alasan yang mendasarinya adalah jika siswa belajar Bahasa Inggris untuk kepentingan vokasi maka kosa kata, istilah, latar belakang dan waktunya hanya terbatas pada bidang yang sedang dipelajarinya saja. Misalnya: ”Good morning madame, can I help you to fill this form?” atau “Have you reserved the room in advance?” dll. Namun jika kita mengajarkan siswa berpikir kritis, analitis dan logis maka ada beberapa hal yang bisa dikuasai oleh mereka (1)  wawasan yang luas (2) kosa kata yang kaya (3) peningkatan kemampuan 4 keterampilan berbahasa yaitu LISTENING, READING, SPEAKING dan WRITING. (4) siswa memiliki kedalaman berpikir yang tidak hanya terbatas pada penguasaan masalah besarnya saja tapi mampu untuk mengelaborasinya sampai kepada detil. Jadi kami menekankan kepada siswa bahwa pelajaran vokasional Bahasa Inggris bukan pelajaran bahasa tapi bantuan kepada siswa untuk menunjukkan siapa dirinya melalui kemampuan mengungkapkan ide dan pendapatnya namun dilaksanakan dalam Bahasa Inggris.

Kami memulai dengan menetapkan Standar Kompetensi, selanjutnya disebut SK, yaitu (1) berkomunikasi dan menginterpretasi  ide dalam situasi formal dan informal/ to communicate and interpret ideas through formal and informal speaking situation (2) berkomunikasi dan menginterpretasi ide dalam berbagai  konteks/ to communicate and interpret ideas in a range of contexts dan (3) berkomunikasi  melalui ide personal dan atau berdasarkan hasil observasi/riset/ to communicate through personal and researched ideas. Dari penetapan SK tersebut  maka kami lanjutkan dengan penetapan Kompetensi Dasar, selanjutnya disebut KD, dan ini dilakukan berjenjang dimulai dari hal yang sederhana menuju ke hal yang lebih kompleks. Misalnya untuk kelas X dimulai dengan menceritakan pengalaman yang telah dialami, menggambarkan ciri-ciri fisik teman sekelas, menceritakan tentang lagu yang pernah didengar atau cerpen/buku yang pernah dibaca. Kemudian untuk kelas XI KD yang ditetapkan adalah menceritakan peristiwa lucu yang pernah dialami, membaca puisi yang disukai, mengomentari satu surat pembaca dalam sebuah koran, melakukan pidato pembukaan dalam sebuah debat, melakukan sanggahan dalam sebuah debat, dll. Kelas XII lebih menitik beratkan pada  melakukan pidato dan berdebat. Tentu saja semuanya dilaksanakan dalam Bahasa Inggris!

Sukar? Tentu saja pada awalnya. Namun MGMP bahasa Inggris di sekolah kami terdiri dari guru-guru Bahasa Inggris dan guru-guru Vokasional Bahasa Inggris dan kami melakukan kajian kurikulum untuk pelaksanaan PBM. Artinya kami melakukan analisa SK dan KD serta melakukan sinkronisasinya. Misalnya untu kelas X, berdasarkan SK dan KD yang telah ditetapkan maka dalam pelajaran Bahasa Inggris jenis teks yang akan diajarkan adalah narrative, recount, descriptive, report, procedure. Kemudian untuk kelas XI jenis teks yang diajarkan adalah analytical exposition, hortatory exposition, anecdote dan narrative. Untuk kelas XII, discussion, explanation, review. Dari sinkronisasi tersebut dapat dipastikan bahwa pelajaran Bahasa Inggris dan Vokasional Bahasa Inggris saling mendukung satu sama lain. Misalnya dalam sebuah PBM dikelas XI, siswa diminta untuk membuat sebuah pidato sanggahan dalam sebuah debat maka ia akan menggunakan teks jenis analytical/hortatory exposition yang terdiri dari  Assertion (Thesis), Reason and Example/Evidence (Arguments) dan Link Back (Reiteration/Recommendation). Jelas kan, bahwa keduanya saling mendukung satu sama lain! 

Penggunaan TIK sangat membantu dalam pelaksanaan PBM karena belum ada buku panduan dan buku teks mengenai hal ini maka guru dan siswa dituntut untuk terus kreatif mencari informasi yang dibutuhkan. Misalnya jika berkaitan dengan puisi, maka guru meminta siswa untuk mengunjungi situs tertentu yang memuat puisi-puisi yang diminta dan memilih satu yang disukainya. Biasanya dalam situs tersebut juga dimuat tentang penciptanya, latar belakang penulisan, interpretasi dll. Yang tentu saja akan memperkaya khazanah siswa.  Contoh yang lain adalah jika siswa harus mencari informasi terkini dan akurat untuk penulisan pidatonya maka ia bisa mencarinya dengan berselancar di internet. Jelas bukan bahwa wawasan dan kosa kata siswa akan menjadi lebih kaya? Belum lagi jika berbicara tentang film, lagu, pidato-pidato tokoh-tokoh penting dunia, semuanya bisa diakses melalui internet.

Dalam pelaksanaan PBM sehari-hari, bagian kurikulum menetapkan jika di satu kelas pada satu hari tertentu ada pelajaran Bahasa Inggris maka dikelas tersebut dipastikan ada pelajaran Vokasional Bahasa Inggris. Maka, itulah English Day untuk kelas tersebut! English Day? Itulah yang sering digembar-gemborkan dan dianjurkan oleh para petinggi dan banyak pihak lain sebagai salah satu cara untuk membiasakan siswa mampu menggunakan Bahasa Inggris. Indah terdengar namun sukar dilaksanakan di sekolah umum (bukan berasrama) dan dengan jumlah kelas serta siswa yang banyak. Tapi dengan English Day yang kami laksanakan, pelaksanaanya sangat mudah karena dalam PBM, untuk pelajaran Bahasa Inggris dan Vokasional Bahasa Inggris dilaksanakan hampir 100% dalam bahasa Inggris. Hanya istilah khusus dan hal-hal yang sangat sukar diterangkan saja yang diberikan dalam Bahasa Indonesia dan hanya guru saja yang boleh berbahasa Indonesia sementara siswa “dipaksa” untuk berbahasa Inggris! Dari paparan di atas tersirat bahwa PBM dibagi menjadi 2 bagian yaitu penjelasan dan pelaksanaan. Benar, namun penjelasan ini tidak selamanya dilaksanakan dalam bentuk ceramah tapi lebih menginspirasi siswa untuk mengambil saripati pembicaraan. Misalnya, ketika guru mulai masuk kelas ia akan melemparkan satu masalah “Students of Senior High Schools have proper right to do sex.” Masalah tersebut tentu saja akan mengundang banyak tanggapan yang setuju dan tidak setuju dan siswa akan berebut untuk menyampaikan argumentasinya. Maka dari sanalah guru akan “menggiring” siswa sampai kepada inti KD yang harus dikuasai siswa. Bagaimana dengan persoalan tata bahasa? Selama komunikasi berjalan dengan baik, guru masih bertoleransi untuk hal tersebut namun sedikit demi sedikit tata bahasa tetap diperbaiki. Dan pengalaman mengajarkan kami bahwa semakin tinggi tingkatan kelas, semakin baik tata bahasa yang dikuasai siswa. Tapi…tetap saja ada yang buruk penguasaannya dan itulah dinamikanya.

Bagaimana untuk evaluasinya? Evaluasi dilakukan dalam bentuk tes unjuk kerja (performance test) yang dilaksanakan dalam PBM yang telah ditentukan waktunya berdasarkan program tahunan dan program semester. Tidak ada Ulangan Umum atau Sumatif untuk pelajaran ini! Jadi nilai yang tercantum dalam buku laporan siswa adalan nilai untuk Praktek dan Sikap yang diambil dari PBM harian. Jadi siswa tidak dibebani dengan jumlah pelajaran yang semakin banyak  namun mereka tetap bersemangat untuk mengikuti pelajaran karena jerih payahnya dihargai dalam bentuk nilai yang tercantum dalam buku laporan pendidikannya.

Berdasarkan paparan di atas, itulah yang saya maksud dengan belajar menggunakan Bahasa Inggris. Bahasa Inggris bukan sekumpulan jenis teks yang harus dihapalkan fungsi sosialnya dan  struktur generiknya. Bahasa Inggris bukan pula sekumpulan rumus-rumus yang harus dihapalkan untuk bisa menulis dan berbicara berdasarkan waktu (tense) atau sebagai penunjuk status sosial yang pada akhirnya mencampuradukan istilah Bahasa Inggris dalam pembicaraan berbahasa Indonesia yang seringkali tidak tepat. Gunakanlah Bahasa Inggris, biarkan kita membuat kesalahan karena dengan membuat salah kita akan tahu yang benar. Let’s make mistake!

Saya menyadari bahwa apa yang telah dan sedang kami lakukan ini masih penuh dengan kelemahan. Saya  mohon maaf jika terkesan sok tahu dan menggurui, namun dari dasar hati yang paling dalam saya hanya berniat berbagi. Tidak ada niat lain karena tentu saja masih banyak temen-teman guru Bahasa Inggris lain yang memiliki cara dan teknik lain yang lebih baik. Kritik dan sarannya ditunggu ya….



Love,

Rika.


NB.
Terima kasih untuk semua orang yang saya sebutkan dibagian awal tulisan ini. 
(dikutip dari internet - Rika - ALCoB Indonesia)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(dikutip dari internet &#8211; Rika &#8211; ALCoB Indonesia)</p>
<p>Dear All,</p>
<p>Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari hasil interaksi dengan teman-teman baru di ALCoB Indonesia yang baru saja saya temui secara langsung di AIV 2007 Denpasar kemarin. Terus terang, saya merasa feel at home, betah ada dikomunitas saya yang baru ini. Orang pertama yang menginspirasi saya adalah obrolan di kereta api dengan Pak Wuryanta (hampir 30 jam!, sampe gempor badan ini), kemudian obrolan saya dengan Bu Indri Malang, Pak Taufik cs. dalam grup presentasinya, Omongannya Mbak Lies saat malam terakhir dalam persiapan presentasi kelompok dan presentasi kelompoknya  “Ema” Enung yang cantik dari Sumedang tea.</p>
<p>Dalam kesempatan yang terpisah itu tersirat satu masalah yang seringkali dialami dan menjadi kendala bagi hampir kebanyakan orang Indonesia, yaitu Bagaimana menguasai Bahasa Inggris untuk mendukung pencapaian pribadinya. Dari apa yang saya amati ternyata ada satu kesalahan yang seringkali dilakukan untuk menguasai Bahasa Inggris tersebut, yaitu kita selalu BELAJAR BAHASA INGGRIS dan bukan MENGGUNAKAN BAHASA INGGRIS. Ini adalah tantangan yang oleh GURU-GURU BAHASA INGGRIS harus ditaklukan. Jadi…dalam kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman tentang apa yang telah kami, MGMP Bahasa Inggris di SMAN 1 Subang telah lakukan. Maaf kalau jadinya bersifat terlalu teknis.</p>
<p>Kami menyadari, dari pengalaman kami mengajar ternyata alokasi waktu yang tersedia untuk pembelajaran Bahasa Inggris sangat tidak cukup karena beban kurikulum yang padat sementara kami dituntut agar peserta didik dan lulusan dapat menguasai empat keterampilan berbahasa yaitu LISTENING, READING, SPEAKING dan WRITING. Dengan jumlah  rata-rata 36 – 40 siswa didalam satu kelas maka kesempatan untuk penguasaan keterampilan itu sangat sedikit. Maka dari hasil pengamatan itu  kami menambah satu mata pelajaran lagi yang kami sebut VOKASIONAL BAHASA INGGRIS dan alokasi waktunya adalah 2 x 45 menit perminggu perkelas untuk seluruh tingkatan kelas.</p>
<p>Patut diketahui bahwa pelajaran VOKASIONAL BAHASA INGGRIS ini tidak mengajarkan Bahasa Inggris vokasional seperti English for Tourism atau English for Banking atau English for Technical Engineering, dll. Pelajaran Vokasional Bahasa Inggris ini adalah pelajaran yang melatih siswa untuk berpikir secara KRITIS, ANALITIS dan LOGIS namun dilaksanakan dalam Bahasa Inggris. Alasan yang mendasarinya adalah jika siswa belajar Bahasa Inggris untuk kepentingan vokasi maka kosa kata, istilah, latar belakang dan waktunya hanya terbatas pada bidang yang sedang dipelajarinya saja. Misalnya: ”Good morning madame, can I help you to fill this form?” atau “Have you reserved the room in advance?” dll. Namun jika kita mengajarkan siswa berpikir kritis, analitis dan logis maka ada beberapa hal yang bisa dikuasai oleh mereka (1)  wawasan yang luas (2) kosa kata yang kaya (3) peningkatan kemampuan 4 keterampilan berbahasa yaitu LISTENING, READING, SPEAKING dan WRITING. (4) siswa memiliki kedalaman berpikir yang tidak hanya terbatas pada penguasaan masalah besarnya saja tapi mampu untuk mengelaborasinya sampai kepada detil. Jadi kami menekankan kepada siswa bahwa pelajaran vokasional Bahasa Inggris bukan pelajaran bahasa tapi bantuan kepada siswa untuk menunjukkan siapa dirinya melalui kemampuan mengungkapkan ide dan pendapatnya namun dilaksanakan dalam Bahasa Inggris.</p>
<p>Kami memulai dengan menetapkan Standar Kompetensi, selanjutnya disebut SK, yaitu (1) berkomunikasi dan menginterpretasi  ide dalam situasi formal dan informal/ to communicate and interpret ideas through formal and informal speaking situation (2) berkomunikasi dan menginterpretasi ide dalam berbagai  konteks/ to communicate and interpret ideas in a range of contexts dan (3) berkomunikasi  melalui ide personal dan atau berdasarkan hasil observasi/riset/ to communicate through personal and researched ideas. Dari penetapan SK tersebut  maka kami lanjutkan dengan penetapan Kompetensi Dasar, selanjutnya disebut KD, dan ini dilakukan berjenjang dimulai dari hal yang sederhana menuju ke hal yang lebih kompleks. Misalnya untuk kelas X dimulai dengan menceritakan pengalaman yang telah dialami, menggambarkan ciri-ciri fisik teman sekelas, menceritakan tentang lagu yang pernah didengar atau cerpen/buku yang pernah dibaca. Kemudian untuk kelas XI KD yang ditetapkan adalah menceritakan peristiwa lucu yang pernah dialami, membaca puisi yang disukai, mengomentari satu surat pembaca dalam sebuah koran, melakukan pidato pembukaan dalam sebuah debat, melakukan sanggahan dalam sebuah debat, dll. Kelas XII lebih menitik beratkan pada  melakukan pidato dan berdebat. Tentu saja semuanya dilaksanakan dalam Bahasa Inggris!</p>
<p>Sukar? Tentu saja pada awalnya. Namun MGMP bahasa Inggris di sekolah kami terdiri dari guru-guru Bahasa Inggris dan guru-guru Vokasional Bahasa Inggris dan kami melakukan kajian kurikulum untuk pelaksanaan PBM. Artinya kami melakukan analisa SK dan KD serta melakukan sinkronisasinya. Misalnya untu kelas X, berdasarkan SK dan KD yang telah ditetapkan maka dalam pelajaran Bahasa Inggris jenis teks yang akan diajarkan adalah narrative, recount, descriptive, report, procedure. Kemudian untuk kelas XI jenis teks yang diajarkan adalah analytical exposition, hortatory exposition, anecdote dan narrative. Untuk kelas XII, discussion, explanation, review. Dari sinkronisasi tersebut dapat dipastikan bahwa pelajaran Bahasa Inggris dan Vokasional Bahasa Inggris saling mendukung satu sama lain. Misalnya dalam sebuah PBM dikelas XI, siswa diminta untuk membuat sebuah pidato sanggahan dalam sebuah debat maka ia akan menggunakan teks jenis analytical/hortatory exposition yang terdiri dari  Assertion (Thesis), Reason and Example/Evidence (Arguments) dan Link Back (Reiteration/Recommendation). Jelas kan, bahwa keduanya saling mendukung satu sama lain! </p>
<p>Penggunaan TIK sangat membantu dalam pelaksanaan PBM karena belum ada buku panduan dan buku teks mengenai hal ini maka guru dan siswa dituntut untuk terus kreatif mencari informasi yang dibutuhkan. Misalnya jika berkaitan dengan puisi, maka guru meminta siswa untuk mengunjungi situs tertentu yang memuat puisi-puisi yang diminta dan memilih satu yang disukainya. Biasanya dalam situs tersebut juga dimuat tentang penciptanya, latar belakang penulisan, interpretasi dll. Yang tentu saja akan memperkaya khazanah siswa.  Contoh yang lain adalah jika siswa harus mencari informasi terkini dan akurat untuk penulisan pidatonya maka ia bisa mencarinya dengan berselancar di internet. Jelas bukan bahwa wawasan dan kosa kata siswa akan menjadi lebih kaya? Belum lagi jika berbicara tentang film, lagu, pidato-pidato tokoh-tokoh penting dunia, semuanya bisa diakses melalui internet.</p>
<p>Dalam pelaksanaan PBM sehari-hari, bagian kurikulum menetapkan jika di satu kelas pada satu hari tertentu ada pelajaran Bahasa Inggris maka dikelas tersebut dipastikan ada pelajaran Vokasional Bahasa Inggris. Maka, itulah English Day untuk kelas tersebut! English Day? Itulah yang sering digembar-gemborkan dan dianjurkan oleh para petinggi dan banyak pihak lain sebagai salah satu cara untuk membiasakan siswa mampu menggunakan Bahasa Inggris. Indah terdengar namun sukar dilaksanakan di sekolah umum (bukan berasrama) dan dengan jumlah kelas serta siswa yang banyak. Tapi dengan English Day yang kami laksanakan, pelaksanaanya sangat mudah karena dalam PBM, untuk pelajaran Bahasa Inggris dan Vokasional Bahasa Inggris dilaksanakan hampir 100% dalam bahasa Inggris. Hanya istilah khusus dan hal-hal yang sangat sukar diterangkan saja yang diberikan dalam Bahasa Indonesia dan hanya guru saja yang boleh berbahasa Indonesia sementara siswa “dipaksa” untuk berbahasa Inggris! Dari paparan di atas tersirat bahwa PBM dibagi menjadi 2 bagian yaitu penjelasan dan pelaksanaan. Benar, namun penjelasan ini tidak selamanya dilaksanakan dalam bentuk ceramah tapi lebih menginspirasi siswa untuk mengambil saripati pembicaraan. Misalnya, ketika guru mulai masuk kelas ia akan melemparkan satu masalah “Students of Senior High Schools have proper right to do sex.” Masalah tersebut tentu saja akan mengundang banyak tanggapan yang setuju dan tidak setuju dan siswa akan berebut untuk menyampaikan argumentasinya. Maka dari sanalah guru akan “menggiring” siswa sampai kepada inti KD yang harus dikuasai siswa. Bagaimana dengan persoalan tata bahasa? Selama komunikasi berjalan dengan baik, guru masih bertoleransi untuk hal tersebut namun sedikit demi sedikit tata bahasa tetap diperbaiki. Dan pengalaman mengajarkan kami bahwa semakin tinggi tingkatan kelas, semakin baik tata bahasa yang dikuasai siswa. Tapi…tetap saja ada yang buruk penguasaannya dan itulah dinamikanya.</p>
<p>Bagaimana untuk evaluasinya? Evaluasi dilakukan dalam bentuk tes unjuk kerja (performance test) yang dilaksanakan dalam PBM yang telah ditentukan waktunya berdasarkan program tahunan dan program semester. Tidak ada Ulangan Umum atau Sumatif untuk pelajaran ini! Jadi nilai yang tercantum dalam buku laporan siswa adalan nilai untuk Praktek dan Sikap yang diambil dari PBM harian. Jadi siswa tidak dibebani dengan jumlah pelajaran yang semakin banyak  namun mereka tetap bersemangat untuk mengikuti pelajaran karena jerih payahnya dihargai dalam bentuk nilai yang tercantum dalam buku laporan pendidikannya.</p>
<p>Berdasarkan paparan di atas, itulah yang saya maksud dengan belajar menggunakan Bahasa Inggris. Bahasa Inggris bukan sekumpulan jenis teks yang harus dihapalkan fungsi sosialnya dan  struktur generiknya. Bahasa Inggris bukan pula sekumpulan rumus-rumus yang harus dihapalkan untuk bisa menulis dan berbicara berdasarkan waktu (tense) atau sebagai penunjuk status sosial yang pada akhirnya mencampuradukan istilah Bahasa Inggris dalam pembicaraan berbahasa Indonesia yang seringkali tidak tepat. Gunakanlah Bahasa Inggris, biarkan kita membuat kesalahan karena dengan membuat salah kita akan tahu yang benar. Let’s make mistake!</p>
<p>Saya menyadari bahwa apa yang telah dan sedang kami lakukan ini masih penuh dengan kelemahan. Saya  mohon maaf jika terkesan sok tahu dan menggurui, namun dari dasar hati yang paling dalam saya hanya berniat berbagi. Tidak ada niat lain karena tentu saja masih banyak temen-teman guru Bahasa Inggris lain yang memiliki cara dan teknik lain yang lebih baik. Kritik dan sarannya ditunggu ya….</p>
<p>Love,</p>
<p>Rika.</p>
<p>NB.<br />
Terima kasih untuk semua orang yang saya sebutkan dibagian awal tulisan ini.<br />
(dikutip dari internet &#8211; Rika &#8211; ALCoB Indonesia)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on JENJANG PROFESIONAL/ Diploma by Mr WordPress</title>
		<link>http://dkvutama.wordpress.com/2008/10/21/hello-world/#comment-1</link>
		<dc:creator>Mr WordPress</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 06:56:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-1</guid>
		<description>Hi, this is a comment.&lt;br /&gt;To delete a comment, just log in, and view the posts&#039; comments, there you will have the option to edit or delete them.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hi, this is a comment.<br />To delete a comment, just log in, and view the posts&#8217; comments, there you will have the option to edit or delete them.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
